MAKALAH
KEMUNDURAN
DUNIA ISLAM
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama
Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puja dan puji
syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang
kemunduran dunia Islam.
Adapun makalah ini
telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai
pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak
lupa menyampaikan banyak terima kasih kepada teman-teman yang memberikan buku
referensi kepada saya untuk membuat makalah ini. Namun tidak lepas dari semua
itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusun
bahasa, maupun segi lainnya. Oleh karena itu, dengan lapang dada dan tangan
terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin member saran dan
kritik kepada kami sehingga kami dapat memperbaiki makalah sejarah
kemundura islam.
Akhirnya penyusun
mengharapkan semoga dari makalah ini tentang kemunduran dunia
Islam ini dapat diambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan
inspirasi bagi pembaca.
Air Rami ,05 Juni 2021
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL
KATA PENGANTAR.......................................................................................... i...............
DAFTAR ISI..........................................................................................................................
BAB 1 PENDAHULUAN.....................................................................................................
a. Latar
Belakang..................................................................................................................
b. Tujuan................................................................................................................................
c. Rumusan
Masalah..............................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................................
a. Sejarah
kemunduran
Islam......................................................................... .......................
b. Faktor-faktor
yang mempengaruhi kemunduran Islam......................................................
c. Kerajaan-kerajaan
yang mengalami kehancuran...............................................................
BAB III PENUTUP............................................................................................... ...............
a.
Kesimpulan....................................................................................................................
b.
Saran..............................................................................................................................
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Islam sebagai agama
yang sempurna, agama yang diridhai oleh Allah Swt yang memiliki suatu landasan
Al-Qur’an dan hadist sebagai pedoman hidup manusia. Maka sesungguhnya kehidupan
manusia telah digarisi oleh Allah Swt, dalam Al-Quran tentang aturan
kehidupan-Nya. Oleh karenanya islam memiliki sejarah tentang masa kemajuan dan
masa kemundurannya. Dikatakan sebagai era kemajuan islam tersebut, yaitu disaat
umat islam telah berhasil menegakkan hak-hak Allah diatas muka bumi dalam
menerapkan hukum-hukum syariat Allah Swt sebagai hukum yang berlaku dalam
kehidupan manusia, baik dalam aturan kepemerintahan, undang-undang, maupun
dalam kemasyarakatan. Pada masa ini Islam mampu mempertahankan kekuasaannya dan
berjaya. Sementara di era kemunduran Islam ditandai dengan diambil alih oleh
pihak luar islam dengan serangan, serbuan dan penghancuran kepada kerajaan
islam yang telah berkuasa. Dan mengambil alih kekuasaan dari kerajaan islam
sebelumnya.
Sejarah Islam dapat
dibagi ke dalam periode klasik, pertengahan, dan Modern.[1] Pada periode klasik (650-1250 M)
dibagi menjadi masa kemajuan islam dan masa didintegrasi. Menurut Harun
Nasution pada abad pertengahan adalah era kemunduran Islam. Sejarah mengenai
kemunduran Islam ini banyak masyarakat yang tidak mengetahuinya. Kemunduran
islam pada saat itu, yang mambuat umat islam semakin terpuruk. Dengan runtuhnya
sistem Khilafah, salah satu yang sangat mengharukan bagi umat islam seakan
mereka adalah ayam kehilangan induknya. Umat Islam telah kocar kacir tidak ada
yang mengurus, lain dengan sebelum mundurnya dunia Islam. Ketika Islam berjaya
umat Islam telah diatur sedemikian rupa.
Masyarakat harus
mengetahui tentang sejarah kemunduran islam tersebut, sebagai pelajaran bahwa
yang membuat Islam runtuh dan mundur disebabkan oleh beberapa faktor yang
dijelaskan dalam sejarah islam. Seperti krisisnya politik, krisis intelektual,
dan krisis bidang keagamaan menjadi faktor kemunduran dunia Islam pada saat
abad pertengahan. Dengan melihat kondisi islam hari ini semakin terpuruk maka
menjadi suatu rujukan untuk mempelajari hal-hal yang mempengaruhi kemunduran
islam. Maka, umat islam harus menengoknya pada sejarah agar bisa memajukan dan
menjaga islam ini.
B. Tujuan
a. Untuk
mempelajari sejarah tentang penyebab kemunduran Islam;
b. Agar
umat Islam mengambil suatu pelajaran terjadinya kemunduran dalam dunia islam;
c. Menambah
pengetahuan tentang sejarah Islam; dan
d. Agar
mengetahui tokoh-tokoh yang menghancurkan Islam pada abad pertengahan yang
menyebabakan Islam mundur
C. Rumusan
Masalah
a. Sejak
kapan Islam mengalami kemunduran ?
b. Apa
yang menyebabkan Islam mengalami kemunduran pada abad pertengahan ?
c. Bagaimana
sejarah kemunduran Islam ?
d. Kerajaan
yang berada dimana sajakah yang mengalami keruntuhan pada abad pertengahan ?
BAB
II
PEMBAHASAN
Sejarah
kemunduran islam
Masa
kemunduran Islam terjadi dari tahun 1250 hingga 1500 M. Pada zaman
ini seorang bernama Jengiskhan dan keturunannya datang
membawa penghancuran bagi dunia islam. Jengiskan yang berasal dari
Mongolia dan ia penganut agama Syamaniah, menyembah bintang-bintang
dan sujud kepada Matahari yang sedang terbit. Setelah menduduki
peking pada 1212 M, ia mengalihkan serangannya ke arah barat. Satu demi
satu Kerajaan islam jatuh ke tangannya. Transoxania dan khawarizm dapat
dikalahkan pada 1219 M. Demikian pula Kerajaan Ghazna dapat dikalahkan (1243
M), Azarbaijan (1223 M), dan Kerajaan Saljuk di Asia Kecil (1243 M).
Dari sini ia meneruskan serangannya ke Eropa dan Rusia.
Serangan
ke Baghdad dilakukan oleh cucunya Hulagu Khan Khurasan di Persia terlebih dahulu
ia kalahkan dan Hasyasyasyin di Alamut ia hancurkan. Pada permulaan 1258
M, ia sampai ke tepi Kota Baghdad. Perintah untuk menyerah ditolak oleh
Khalifah al-Mu’tasim dan Kota Baghdad dikepung. Akhirnya pada 10 Februari 1257
benteng kota
ini dapat ditembus dan Baghdad dihancurkan. Khalifah
dan keluarga serta sebagian besar dari penduduknya dibunuh. Beberapa dari
anggota keluarga bani Abbas dapat melarikan diri, dan di antaranya ada yang
menetap di Mesir.
Dari sini Hulagu
meneruskan serangannya ke Suriah, dan dari Suriah ia ingin memasuki Mesir.
Tetapi di Ain jalut ( Goliath ) ia dikalahkan oleh Baybars, Jenderal Mamluk
dari Mesir (1260 M). Selanjutnya Timur Lenk, seorang yang berasal dari
keturunan Jengis Khan dapat menguasai Samarkand di tahun 1369 M. dari Samarkand
ia mengadakan serangan ke sebelah barat dan dapat menguasai daerah-daerah yang
terletak antara Delhi dan Laut Marmara. Dinasti Timur Lenk terlihat pada
pembuhnuhan massal yang dilakukannya di kota-kota yang tidak menyerah
kepadanya. Di kota-kota yang telah ditundukkania dirika piramid dari tengkorak
rakyat yang dibunuh. Di Delhi misalnya, ia membunuh 80 orang dari penduduknya.
Di Allepo lebih dari 20.000 orang. Masjid-masjid dan madrasah ia hancurkan.
Dimana saja ia datang, selalu membawa kehancuran.[2]
Selain ditandai oleh
adanya serangan, serbuan, penghancuran dari berbagai musuh yang datang dari
luar islam, pada periode ini juga ditandai oleh adanya perebutan kekuasaan
diantara sesama dinasti kecil dalam islam. Di Mesir, al-Ayyubi (1174 M). Dengan
datangnya Salah al-Din, Mesir masuk kembali ke dalam aliran sunni. Selain itu,
Salah al-Din juga dikenal dalam sejarah sejarah sebagai sultan yang banyak membela
Islam dalam perang salib. Selanjutnya, pada 1250 M dinasti Ayyub jatuh ke
tangan kekuasaan kaum Malmuk yang berasal dari budak-budak yang kemudian
mendapat kedudukan tinggi dalam pemerintahan Mesir. Sultan Malmuk inilah yang
dapat mengalahkan Hulagu di A’in jalut, dan ia dapat berkuasa di Mesir hingga
1517 M. Merekalah yang dapat membebaskan Mesir dan Suriah dari peperangan Salib
dan juga membendung serangan-serangan kaum Mongol di bawah pimpinanan Hulagu
dan Timur Lenk, sehingga Mesir terlepas dari penghancuran seperti yang terjadi
di dunia islam lain.
Selanjutnya, di India
juga terjadi persaingan dan peperangan untuk memperebutkan kekuasaan, sehingga
India senantiasa menghadapi perubahan kekuasaan. Dinasti yang timbul kemudian
dijatuhkan oleh dinasti lainnya. Kekuasaan dinasti Ghaznawi misalnya dipatahkan
oleh pengikut Ghaur Khan, yang juga berasal dari salah satu suku bangsa Turki.
Mereka masuk ke India di tahun 1175 M, dan bertahan hingga 1206 M. India
kemudian jatuh ke tangan Qutbuddin Aybak, yang selanjutnya menjadi pendiri
dinasti Malmuk India (1206-1290 M), kemudian ke tangan Dinasti Khalji
(1296-1316 M), selanjutnya Dinasti Tughluq (1320-1413 M), dan dinasti-dinasti
lain, sehingga Babur datang di permulaan abad XVI dan membentuk Kerajaan Mughal
di India. Sementara itu di Spanyoljuga terjadi peperangan antara dinasti-dinast
islam yang ada di sana dengan raja-raja Kristen. Didalam peperangan ini,
raja-raja Kristen dapat memakai politik adu domba antara dinasti Islam
tersebut. Sebaliknya, raja-raja Kristen mengadakan persatuan sehingga satu demi
satu dinasti –dinasti Islam dapat dikalahkan. Cordova misalnya, jatuh pada
1238 M, Serville jatuh pada 1248 M, dan akhirnya Granada jatuh pada 1941
M. Orang-orang Islam dihadapkan pada dua pilihan, masuk Kristen atau keluar
dari Spanyol. Pada 1609 M dapat dikatakan tidak ada lagi orang Islam di
Spanyol.
Pada Masa
Kemunduran I ini, juga terjadi kehancuran khalifah secara
formil. Islam tidak lagi mempunyai khalifah yang diakui oleh semua umat sebagai
lambang persatuan dan ini berlaku hingga Kerajaan Utsmani mengangkat
khalifah yang baru di Istanbul di abad keenam belas. Sementara itu perbedaan
antara kaum Sunni dan kaum Syiah menjadi tambah nyata kelihatan.
Demikian pula antara Arab dan Persia. Dunia Islam terbagi dalam dua
bagian; bagian Arab yang terdiri atas Semenanjung
Arabia, Irak, Suriah, Palestina, Mesir, Afrika Utara,
dan Sudan dengan Mesir sebagai pusatnya; dan bagian Persia yang terdiri atas
Balkan,Turki, Persia, Turkistan, dan India Persia sebagai Pusatnya.
Pada Periode
Kemunduran I ini juga pengaruh tarekat-tarekat bertambah mendalam dan bertambah
luas di dunia Islam. Pendapat yang ditimbulkan di zaman disintegrasi yang
mengatakan, bahwa pintu ijtihad telah tertutup diterima secara umum di zaman ini.
Sementara itu antara mazhab yang empat terdapat suasana damai dan
di madrasah-madrasah diajarkan mazhab yang empat. Perhatian pada ilmu
pengetahuan non-keagamaan sedikit sekali. Tetapi sebaliknya Islam mendapat
pemeluk-pemeluk baru di daerah-daerah yang selama ini belum pernah dimasuki
Islam.
Dengan demikian, pada
Masa Kemunduran I ini, umat Islam bukan saja mengalami kehancuran dalam bidang
politik dan daulat Islamiyah, melainkan juga kehancuran dalam bidang
kebudayaan, peradaban, dan ilmu pengetahuan. Islam yang pada zaman kemunduran I
ini adalah Islam yang dikotomis antara urusan dunia dan akhirat, ilmu agama dan
umum, ulama dan ilmuan, dan Islam yang telah kehilangan spritualitas dan
energisitasnya. Islam pada masa itu tinggal abunya, sedangkan apinya sudah
padam. Jika di berbagai wilayah Islam dapat meluaskan pengaruhnya, maka islam
yang meluas ini adalah Islam yang bersifat dogmatis, ritual, dan formalitas.
B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kemunduran Islam
a. Krisis politik
Pemimpin
tidak mengamalkan ajaran agama
Para ahli sejarah
mengajukan hipotesis bahwa kemunduran Islam disebabkan karena gaya hidup para
penguasa yang gemar hidup bermewah-mewah dan berorientasi duniawi saja. Pola
hidup serakah, iri hati, ambisi kekuasaan dan tidak mementingkan kehidupan
rohani dan ukhrawi menjadi gaya hidup para penguasa. Penguasa Islam telah
menggunakan tangan besi dalam pemimpin. Ajaran Islam hanya dalam kehidupan
nyata. Yang paling ironis saat itu adalah agar pemimpin ditaati secara
mutlak, tidak boleh dibantah dan harus dihormati, mereka mengklaim dirinya
sebagai wakil Tuhan di bumi meskipun tidak adil.[3]
Serangan
tentara Mongol dan runtuhnya Abbasiyah
Pada tahun 565 H/1258
M, tentara Mongol yang berkekuatan sekitar 200.000 orang tiba disalah satu
pintu Baghdad. Khalifah Al-Mu’tashim yang berkuasa saat itu tidak berdaya dan
tidak mampu membendung kekuatan tentara Hulagho Khan. Kota baghdad dihancurkan
rata dengan tanah, dan Hulagho Khan menancapkan kekuasaan-Nya di Baghdad selama
dua tahun, sebelum melanjutkan serangannya ke Syiria dan Mesir.
Jatuhnya kota Baghdad
pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri Khlifah
Abbasiyah disana, tetapi juga merupakan awal dari massa kemunduran politik dan
peradaban islam. Khalifah sebagai simbol pemersatu umat Islam di dunia mulai
hilang. Kejadian yang sangat tragis yaitu ketika hancurnya perpustakaan
terbesar di dunia saat itu, Baitul Hikmah, yang menyimpan banyak dokumen
sejarah dan buku berharga dalam berbagai disiplin ilmu.
Saat tentara Mongol
masuk ke Baghdad, para penduduk berusaha kabur, namun berhasil decegat dan
dibantai tanpa ampun. Martin Sicker menyebutkan bahwa hampir 90.000 orang
mungkin dibantai. Beberapa perkiraan lainnya jauh lebih tinggi. Wassaf
mengklaim bahwa korban jiwa mencapai 100-an ribu orang. IanFrazier dari The
New Yorker mengatakan bahwa perkiraan korban jiwa bervariasi dari
200.000 hingga 1000.000 orang. Akibat kekejamannya ini Hulagu harus memindahkan
perkemahannya ke luar dari kota karena bau busuk yang sangat menyengat didalam
kota. Jumlah penduduk Baghdad jauh berkurang dan kota itu menjadi reruntuhan
selama beberapa abad berikutnya dan hanya secara perlahan pulih dan memperoleh
sedikit dari kejayaan lamanya. Pasukan Mongol menjarah dan kemudian
menghancurkan masjid, istana, perpustakaan, dan rumah sakit. Bangunan-bangunan
besar yang merupakan karya beberapa generasi dibakar sampai habis.
Khalifah dipaksa menonton ketika penduduknya dibantai dan harta bendanya
dirampas. Menurut sebagian besar sumber, Khalifah dibunuh dengan cara di
injak-injak oleh kuda. Pasukan Mongol menggulung Khalifah dalam sebuah karpet,
lalu mereka menunggang kuda diatas badannya, karena mereka percaya bahwa bumi
akan marah jika ada darah penguasa yang ditumpahkan.[4]
Terjadi
disintegarasi umat Islam
Benih perpeacahan dan
disintegrasi sesunguhnya telah muncul di tubuh umat islam sejak periode
akhir pemerintahan Abbasiyah. Hal ini ditandai dengan konflik antara Sunni dan
Syi’ah semakin menajam. Setelah Abbasiyah hancur, esklasi konflik semakin
memuncak secara akibat perbedaan perbedaan paham agama dalam aspek
ideologis, teologis dan berujung pada konflik geografis. Umat Islam mengalami
perpecahan menjadi nation-state kecil akibat kuatnya
disentegrasi.
Secara umum, di zaman
akhir Abbasiyah, wilayah teritorial Islam terbagi dua yaitu: pertama, bagian
Arab yang terdiri dari Arabia, Suriah, Iraq, Palestina, Mesir dan Afrika Utara
dengan Mesir sebagai pusatnya. Kedua, bagian Persia yang
terdiri atas Balkan, Asia kecil, Persia dan Asia Tengah dengan Iran sebagai
pusatnya. Secara rill, daerah-daerah itu berada dibawah kekuasaan gubernur
–gubernur bersangkutan. Hubungan denga Khalifah hanya ditandai dengan
pembayaran upeti. Akibatnya Khalifah tidak cukup kuat untuk membuat mereka
tunduk, tidak saling percaya dikalangan penguasa dan pelaksana pemerintahan
sangat rendah dan juga para penguasa Abbasiyah lebih menitik beratkan pembinaan
peradaban dan kebudayaan daripada politik dan eksepansi. Selain itu, penyebab
utama banyak daerah yang memerdekakan diri adalah terjadinya kekacauan atau
perebutan kekuasaan di pemerintahan pusat yang dilakukan oleh bangsa Persia dan
Turki. Akibatnya beberapa propinsi di Persia, Turki, Kurdi, dan lainnya mulai
lepas dari genggaman penguasa Banni Abbas.[5]
Perang
Salib
Perang Salib adalah
gerakan umat Kristen di Eropa yang memerangi umat Muslim di Palestina secara
berulang-ulang mulai abad ke-11 sampai abad ke-13, dengan tujuan untuk merebut
Tanah Suci dari kekekuasaan kaum Muslim dan mendirikan Gereja, juga kerajaan
Latin di Timur. Dinamakan Perang Salib, karena setiap orang Eropa yang ikut
bertempur dalam peperangan memakai tanda salib pada bahu, lencana dan
panji-panji mereka.
Perang salib
berlangsung dalam kurun waktu hamper dua abad (200 tahun), yaitu antara tahun
1095-1291, dengan 8 periode peperangan. Namun Stoddard mengatakan perang Salib
tidak berlangsung dua abad atau lebih, melainkan berlangsung selama enam abad
(600 tahun), dan baru berakhir secara pasti di perbentengan Wina tahun 1683.[6]
Perang salib
berpengaruh luas terhadap politik, ekonomi dan social, bahkan terasa
masih berpengaruh sampai masa kini. Walaupun umat Islam berhasil memperthankan
daerah-daerahnya dari tentara salib, namun kekuatan politik umat Islam menjadi
lemah. Wilayah-wilayah umat Islam terpecah belah dan ingin memerdekakan diri
dari kekuasaan Islam di Abbasiyah.
Dalam konteks
hubungan antaragama, perang salib meninggalkan trauma yang mendalam antara
Islam dan Kristen sampai sekarang. Akibatnya Negara-negar barat masih membenci
Islam.
Persaingan
antar bangsa
Khilafah Abbasiyah
didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Persekutuan
dilatarbelakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umayyah
berkuasa. Keduanya sama-sama tertindas. Setelah khilafah Abbasiyah berdiri,
dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Menurut Stryzewska, ada
dua sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia daripada orang-orang
Arab. Pertama, sulit bagi orang-orang Persia daripada
orang-orang Arab untuk melupakan Bani Umayyah. Pada masa itu mereka merupakan
warga kelas satu. Kedua, orang-orang Arab sendiri terpecah
belah dengan adanya ‘ashabiyyah kesukuan. Dengan demikian,
khilafah Abbasiyah tidak ditegakkan di atas ashabiyyah tradisional.
Meskipun demikian,
orang-orang Persia, tidak merasa puas. Mereka menginginkan sebuah dinasti
dengan raja dan pegawai dari Persia pula. Sementara itu, bangsa Arab
beranggapan bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras)
istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab di dunia Islam.
Selain itu, wilayah
kekuasaan Abbasiyah pada periode pertama sangat luas, meliputi bebrbagai bangsa
yang berbeda, seperti Maroko, Mesir, Syiria, Irak, Persia, Turki, dan India.
Mereka disatukan dengan bangsa Semit. Kecuali Islam, pada waktu itu tidak ada
kesadaran yang merajut elemen-elemen yang bermacam-macam tersebut dengan kuat.
Akibatnya, di samping fanatisme kearaban, muncul juga fanatisme bangsa-bangsa
lain yang melahirkan gerakkan syu’ubiyah.
Fanatisme
kebangsaan ini tampaknya dibiarkan berkembang oleh penguasa. Sementara
itu, para khalifah menjalankan sistem perbudakkan baru. Budak-budak
bangsa Persia atau Turki dijadikan pegawai tentara. Mereka diberi nasab dinasti
dan mendapat gaji. Oleh Banni Abbas, mereka dianggap sebagai hamba. Sistem
perbudakkan ini telah mempertinggi pengaruh bangsa Persia dan Turki. Karena
jumlahnya dan kekuatan mereka yang besar, mereka merasa bahwa negara adalah
milik mereka; mereka mempunyai kekuasaan atas rakyat berdasarkan kekuatan
khalifah.
Kecenderungan
masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal
khilafah Abbasiyah berdiri. Akan tetapi,karena para khilafah adalah oang –orang
kuat yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan, stabilitas politik dapat
terjaga. Setelah Al-Mutawakkil, seorang khalifah yang lemah, naik tahta,
dominasi tentara Turki tak terbendung lagi. Sejak itu kekuatan Banni Abbas
sebenarnya sudah berakhir. Kekuasaan berada ditangan orang-orang Turki. Posisi
ini kemudian direbut oleh Bani Buwaih, bangsa Persia, pada periode ketiga, dan
selanjutya beralih kepada dinasti Seljuk pada periode keempat, sebagaimana
diuraikan terdahulu.[7]
Kemerosotan
Ekonomi
Khilafah Abbasiyah
juga mengalami kemunduran dibidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran dibidang
politik. Pada periode pertama, pemerintah Banni Abbas merupakan pemerintahan
yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga Bait al-Mal
penuh dengan harta. Pertambahan dana yang besar diperoleh antara lain
dari al-kharaja, semacam pajak hasil bumi.
Setelah khilafah
memasuki periode kemunduran, pendapatan negara menurun, sementara pengeluaran
meningkat lebih besar. Menurunnya pendapatan negara itu disebabkan oleh makin
menyempintnya wilayah kekuasaan, banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu
perekonomian rakyat, diperingannya pajak, dan banyaknya dinasti-dinasti kecil
yang memerdekakan diri dan dan tidak lagi membayar upeti. Sedangkan,
pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan
pejabat semakin mewah, jenis pengeluaran makin beragam, dan para pejabat
melakukan korupsi.
Kondisi politik yang
tidak stabil menyebabkan perekonomian negara morat-marit. Sebaliknya, kondisi
ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik dinasti Abbasiyah, kedua faktor
ini saling berkaitan dan tak terpisahkan.
Konflik
keagamaan
Fanatisme keagamaan
berkaitan erat dengan persoalan kebangsaan. Karena cita-cita orang Persia tidak
sepenuhnya tercapai, kekecewaan mendorong sebagian mereka
mempropagandakan ajaran Manuisme, Zoroasterisme, dan Mazdakisme. Munculnya
gerakan yang dkenal dengan gerakan Zindiq ini menggoda rasa keimanan para
khalifah. Al-Manshur berusaha keras memberantasnya. Al-Mahdi bahkan merasa
perlu mendirikan jewatan khusus untuk mengawasi kegiatan orang-orang Zindiq dan
melakukan mihnah dengan tujuan memberantas bid’ah. Akan
tetapi, semua itu tidak menghentikan kegiatan mereka. Konflik antara kaum
beriman dengan golongan Zindiq berlanjut mulai dari bentuk yang sangat
sederhana seperti, polemik tentang ajaran, sampai kepada konflik bersenjata
yang menumpahkan darah di kedua belah pihak. Gerakan al-Afsyin dan Qaramithah
adalah contoh konflik bersenjata itu.
Pada saat ini mulai
tersudut, pendukungnya banyak berlindung dibalik ajaran Syi’ah,
sehingga banyak aliran Syi;ah yang dipandang Ghulat (ekstrim)
dan dianggap menyimpang oleh penganut Syi’ah sendiri.
Aliran Syi’ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang
berhadapan dengan paham Ahlussunnah. Antara keduanya, sering terjadi konflik
yang kadang-kadang juga melibatkan penguasa. Al-Mutawakkil misalnya,
memerintahkan agar makam Hussein di Karbela dihancurkan. Namun, anaknya
Al-Muntashir (861-862 M), kembali memperkenankan orang Syi’ah menziarahi
makamnya Husein tersebut. Syi’ah perah berkuasa di dalam khilafah
Abbasiyah melalui Bani Buwaih lebih dari seratus tahun. Dinasti Idrisiyah di
Maroko dan khilafah Fathimiyah di Mesir adalah dua dinasti Syi’ah yang
memerdekakan diri dari Baghdad yang Sunni.
Kehadiran golongan
Mu’tazilah yang cenderung rasional dituduh sebagai pembuat bid’ah oleh golongan
salaf. Perselisihan antara dua golongan ini dipertajam oleh Al-ma’mun, khalifa
ketujuh dinasti Abbasiyah (813-833 M), dengan menjadiakan Mu’tazilah sebagai
mazhab resmi negara dan melakukan mihnah. Pada masa
Al-Mutawakkil (847-861), aliran Mu’tazilah di batalkan sebagai aliran negara
dan golongan salaf kembali naik daun. Tidak tolerannya pengikut hanbali itu
(salaf) terhadap Mu’tazilah yang rasional telah menyempitkan horizon
intelektual.
Aliran Mu’tazilah
bangkit kembali pada masa dinasti Buwaih. Namun, pada masa dinasti Seljuk yang
menganut aliran Asy’ariyah, pengikiran golongan Mu’tazilah mulai dilakukan
secara sistematis. Dengan didukung penguasa aliran Asy’ariyah tumbuh subur dan
berjaya. Pikiran-pikiran Al-Ghazali yang mendukung aliran ini menjadi ciri
utama paham Ahlussunnah. Pemikiran-pemikiran tersebut mempunyai efek yang tidak
menguntungkan bagi pengembangan kreativitas intelektual Islam, konon sampai
sekarang.
Berkenaan dengan konflik
keagamaan itu, Syed Ameer Ali mengatakan :“ Agama Muhammad Saw. Seperti juga
agama Isa as., terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam
perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada
kepastiannya dalam suatu yang kehidupan yang mempunyai akhir, selalu
menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari
perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan
pengetahuan manusia. Soal kehendak bebas manusia telah menyebabkan kekacauan
yang rumit dalam Islam. Pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat
salah. Menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga.
Ancaman
dari luar
Apa yang disebut
diatas adalah faktor-faktor internal. Disamping itu, ada pula faktor-faktor
eksternal yang menyebabkan khilafah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur. Pertama,
perang salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan
banyak korban. Kedua, serangan tentara Mongol ke wilayah
kekuasaan Islam. Namun, diantara komunitas-komunitas Kristen Timur, hanya
Armenia dan Maronit Lebanon yang tertarik dengan Perang Salib dan melibatkan
diri dalam tentara Salib itu.
Pengaruh Salib juga
terlihat dalam penyerbuan tentara Mongol. Disebutkan bahwa Hulagu Khan,
panglima tentara Mongol, sangat membenci Islam karena ia banyak dipengaruhi
oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian. Gereja-gereja Kristen berasosiasi
dengan orang-orang Mongol yang anti-Islam itu diperkeras di kantong-kantong ahl
al-kitab. Tentara Mongol, setelah menghancur leburkan pusat-pusat Islam, ikut
memperbaiki Yerussalem.
C. KERAJAAN-KERAJAAN YANG MENGALAMI KEHANCURAN
a. Kerajaan
Mamalik di Mesir
Kata Mamalik adalah adalah bentuk jamak dari kota ”Mamluk” yang berarti
budak. Kerajaan atau Dinasti Mamalik didirikan oleh para budak yang berasal
dari tawanan penguasa Dinasti Ayyubiah. Mereka dididik dan dijadikan tentara
untuk dijadikan pengawal kerajaan. Pada masa Al Malik Al Salih, penguasa
Ayyubiah terakhir, kaum Mamalik ini mendapat hak-hak yang istimewa sebagai mana
yang lainnya. Karena khawatir hak-haknya ini dirampas oleh Turansyah (putra Al
Malik Al Salih), setelah ia naik tahta, maka pada tahun 1250 M pimpinan
Mamalik, Aybak dan Baybars, membunuh Turansyah. Pemerintahan kemudian
dikendalikan oleh istri Al Malik Al Salih, Syajarah Al-Durr yang semula juga
berasal dari kaum Mamalik. Namun Syajarah Al Durr kemudian dibunuh oleh Aybak.
Aybak semula mengangkat Musa sebagai penguasa Ayyubiah secara formal, meskipun
pengendalinya tetap Aybak, Musa akhirnya dibunuh juga oleh Aybak dan dia
menjadi penguasa resmi Dinasti Mamalik di Mesir.
Aybak berkuasa selama tujuh tahun (1250-1257 M). Kemudian ia digantikan
anaknya yang masih muda, Ali (tahun 1259 M), Ali mengundurkan diri dan
digantikan oleh wakilnya, Qutuz. Pada waktu Qutuz berkuasa, Baybars pulang ke
Mesir setelah mengasingkan diri ke Syiria, karena tidak senang dengan Aybak.
Qutuz dan Baybars pernah bersama-sama memimpin pasukan dalam melawan tentara
Mongol di Ain Jalut tahun 1260 M dan berhasil mengusirnya. Berkat kemenangan
ini, Dinasti Mamalik dapat menguasai dinasti-dinasti kecil di sekitarnya.
Setelah Qutuz meninggal dunia, Baybars diangkat menjadi Sultan Mamalik
(1260-1277 M). Dari 47 Sultan yang ada, Baybarslah yang merupakan Sultan
Mamalik yang termasyhur.
b. Kerajaan Usmani di Turki
Kerajaan Usmani didirikan oleh bangsa Turki dari kabilah Oghuz yang
mendiami daerah Mongol dan daerah utara negeri Cina. Dibawah pimpinan Ertogrul,
bangsa ini mengabdikan diri kepada Sultan Alaudin II, seorang Sultan dari Turki
Seljuk yang sedang berperang melawan Bizantium. Atas bantuan mereka Sultan
Alaudin mendapat kemenangan atas Bizantium. Atas jasa baik mereka, sultan
kemudian menghadiahkan sebidang tanah di Asia Kecil yang berbatasan dengan
Bizantium yang selanjutnya dijadikan daerah kekuasaan mereka.
Tahun 1289 M Ertogrul meninggal dunia dan digantikan oleh putranya, usman.
Usman ini yang kemudian dianggap sebagai pendiri kerajaan Usmani. Usman
memerintah hingga tahun 1326 M. Ia banyak membantu sultan Alaudin II dalam
melaawan Bizantium. Setelah Sultan meninggal, Usman menyatakan diri merdeka dan
berkuasa penuh di daerah-daerah yang didukinya. Sejak inilah kerajaan Usmani
dinyatakan berdiri dan Usman diangkat sebagai pemimpin pertamanya.
Setelah Utsman I mengumumkan berdirinya Kerajaan Turki Usmani pada tahun
1300 M, setapak demi setapak,wilayah kerajaan diperluasnya. Ia menyerang daerah
perbatasan Bizantium dan menaklukkan Kota Broissa pada tahun 1317 M. Pada tahun
1326 M, Kota Broissa dijadikan sebagai ibukota kerajaan. Pada masa pemerintahan
Orkhan (1326 M-1359 M),Kerajaan Turki Usmani menaklukkan Izmir ( Smirna ) tahun
1327 M, Tawasyanli (1330 M), Iskanderun (1338 M), Ankara (1354 M) dan Gallipoli
(1356 M).
Usman yang biasa dikenal sebagai Usman I berusaha memperluas daerah
kekuasaan Kerajaan Usmani. Usaha ini dilanjutkan oleh Orkhan (1326-1359). Murad
I (1359-1389) dan Bayazid I (1389-1403). Ekspansi ini sempat terhenti beberapa
lama karena serangan Timur Lenk ke Ankara.
Setelah Timur Lenk meninggal dunia pada tahun 1405 M, Mongol terpecah dan
dikuasai oleh anak-anaknya yang saling berselisih. Kondisi ini dimanfaatkan
oleh Kerajaan Turki Usmani untuk melepaskan diri dari kerajaan Mongol. Setelah
sepuluh tahun perebutan kekuasan terjadi, akhirnya Muhammad berhasil
mengalahkan saudara-saudaranya. Usaha Muhammad yang pertama kali ialah
mengadakan perbaikan-perbaikan dan meletakkan dasar-dasar keamanan dalam
negeri. Usaha ini diteruskan oleh Murrad II ( 1421-1451 M ) sehingga Kerajaan
Turki Usmani mencapai puncak kemajuannya pada masa Muhammad II yang bergelar
Muhammad Al-Fatih ( 1451-1481 M ).
Prestasi utama Sultan Muhammad Al-Fatih adalah keberhasilannya menaklukkan
Konstantinopel pada tahun 1453 M. Terbukanya Konstantinopel sebagai benteng
pertahanan terkuat Kerajaan Bizantium memudahkan arus ekspansi Kerajaan Turki
Usmani ke Benua Eropa. Akan tetapi, ketika Sultan Salim I ( 1512-1520 M ) naik
tahta ia mengalihkan perhatian ke arah timur dengan menaklukkan Persia, Suriah
dan Mesir. Usaha Sultan Salim I ini dilanjutkan oleh Sultan Sulaiman al-Qanuni
( 1520-1566 M ). Ia tidak mengarahkan ekpansinya ke salah satu arah timur dan
barat, tetapi seluruh wilayah yang berada disekitar Turki Usmani menjadi
objeknya. Sulaiman berhasil menundukkan Irak, Belgrade,Pulau Rodes, Tunis,
Budapest, dan Yaman di Asia,Mesir, Libia,Tunisia, Aljazair di Afrika,Bulgaria,
Yunani, Yugoslavia,Albania, Hongaria, dan Rumania di Eropa.
Kemajuan dan perkembangan ekspansi Kerajaan Turki Usmani diikuti
kemajuan-kemajuan dalam bidang-bidang kehidupan. Bidang-bidang ini adalah
militer,pemerintahan, ilmu pengetahuan, budaya dan agama.
1. Bidang Militer
Untuk pertama kali , kekuatan militer kerajaan ini mulai diorganisasi
dengan baik dan teratur ketika terjadi kontak senjata dengan Eropa.Pembaruan
yang dilakukan Orkhan adalah disamping memindahkan pimpinan-pimpinan militer
juga merombak prajurit-prajurit dalam keanggotaan.Bangsa-bangsa non Turki
dimasukkan sebagai anggota. Bahkan anak-anak Kristen yang masih kecil
diasramakan dan dibimbing dalam suasana Islam untuk dijadikan prajurit. Progam
ini berhasil membentuk pasukan baru yang disebut pasukan Jenissari atau
Inkisyariah. Pasukan inilah yang membuat Kerajaan Turki Usmani memiliki mesin
perang yang sangat kuat dan memberikan dorongan yang sangat besar dalam
penaklukkan negeri-negeri nonmuslim.
2. Bidang Pemerintahan
Dalam struktur pemerintahan, sultan merupakan penguasa tertinggi. Ia
dibantu oleh Sadr Al-Azam ( perdana menteri )yang membawahi Pasya ( gubernur ).
Gubernur mengepalai daerah tingkat I. Di bawahnya terdapat beberapa orang
Az-Zanaziq atau Al-’Alawiyah ( bupati )
Untuk mengatur urusan pemerintahan negara. Sultan Sulaiman I menyusun
sebuah kitab undang-undang ( Qanun ).Kitab tersebut diberi nama Multaqa
al-Abhur yang menjadi dasar hukum di Kerajaan Turki Usmani hingga datangnya
reformasi pada abad ke-19. Berkat jasanya tersebut, Sultan Sulaiman I mendapat
gelar al-Qanuni.
3. Bidang Budaya
Kebudayaan di wilayah Turki Usmani merupakan perpaduan berbagai macam
kebudayaan, di antaranya kebudayaan Persia, Bizantium dan Arab. Dari kebudayaan
Persia mereka banyak mengambilajran-ajaran tentang etika dan tata krama dalam
istana raja-raja. Organisasi pemerintahan dan kemiliteran banyak mereka serap
dari Bizantium. Ajaran-ajaran prinsip-prinsip ekonomi, sosial,
kemasyarakatan,keilmuan dan huruf mereka terima dari bangsa Arab.
4. Bidang Ilmu Pengetahuan
Sebagai bangsa yang berdarah militer, Kerajaan Turki Usmani lebih banyak
mengfokuskan kegiatan mereka dalam bidang kemiliteran.Dalam bidang ilmu pengetahuan
mereka tidak begitu menonjol. Oleh karena itu, dalam khasanah intelektual
Islam, kita tidak menemukan ilmuwan terkemuka dari Kerajaan Turki Usmani.
Meskipun demikian, mereka banyak berkiprah dalam pengembangan seni arsitektur
Islam berupa bangunan-bangunan masjid yang indah, seperti Masjid al-Muhammadi
atau Masid Jami’ Sultan Muhammad al-Fatih, Masjid Agung Sulaiman, dan Masjid
Abu Ayyub al-Ansari. Masjid-masjid tersebut dihiasi kaligrafi yang indah. Salah
satu masjid yang terkenal dengan keindahan kaligrafinya adalah masjid yang
berasal dari sebuah gereja bernama Aya Sofia.
Sulaiman al-Qannuni juga membangun masjid, sekolah,rumah sakit,
gedung,makam, jembatan,saluran air, vila, dan pemandian umum di berbagai kota.
Menurut sebuah sumber 235 buah dari bangunan itu dibangun di bawah koordinasi
Sinan, seorang arsitek dari Anatolia.
5. Bidang Agama
Agama mempunyai peranan besar di bidang sosial dan polotik
dalam tradisi masyarakat Turki. Masyarakat digolong-golongkan berdasarkan
agama. Kerajaan sendiri sangat terikat dengan syariat sehingga fatwa ulama
menjadi hukum yang berlaku. Oleh karena itu, ulama memiliki tempat tersendiri
serta berperan besar dalam pemerintahan dan kehidupan masyarakat. Mufti,
sebagai pejabat urusan agama tertinggi berwenang memberi fatwa resmi atas
segala permasalahan yang dihadapi msyarakat. Tanpa legitimasi mufti, keputusan
hukum kerajaan tidak dapat berjalan.
Pemerintah Kerajaan Turki Usmani berlangsung selama tujuh abad. Kerajaan
ini mulai lemah setelah berakhirnya kekuasaan Sultan Sulaiman al-Qanuni.
Penyebab mundurnya Kerajaan Turki Usmani adalah :
a) Pada umumnya sultan yang
menggantikan tidak mempunyai wibawa dan lemah dalam memimpin negara.
b) Banyaknya keluarga sultan
hidup dalam kemewahan sehingga memboroskan keuangan negara. Kondisi ini
menyebabkan beberapa wilayah Kerajaan Turki Usmani satu per satu lepas.
Aljazair dan Tunisia direbut Prancis tahun 1830 M, Afrika Utara direbut Italia
tahun 1911 M, dan Mesir direbut Inggris tahun 1917 M.
c) Makin majunya negara-negara Eropa
akibat adanya revolusi industri di Inggris, selain itu peran Turki Usmani
sebagai penghubung perdagangan antara Barat dan Timur melemah, dengan
ditemukannya Tanjung Harapan.
c. Kerajaan Mugal di
India
Peranan umat Islam India dalam penyebarluasan agama
Islam dapat dilihat dalam empat periode yaitu sebelum kerajaan Mugal (705-1526
M), periode Mugal (1526-1858 M), periode masa penjajahan Inggris (1858-1947 M),
dan periode negara India sekuler (1974-sekarang).
Kerajaan Mugal
didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur, keturunan Jengiz Khan bangsa Mongol pada
tahun 1526 M. kerajaan Mugal berpusat di Delhi (India).
Kerajaan Mugal diperintah secara silih berganti oleh 15 raja (sultan).
Sultan pertama kerajaan Mugal adalah Zahiruddin Muhammad Babur (1526-1530 M)
dan Sultan terakhirnya adalah Sultan Bahadur Syah II (1837-1858 M). Kerajaan
Mugal mencapai puncak kejayaannya tatkala diperintah oleh Akbar Syah II
(1556-1605 M), Jahangir atau Nuruddin Muhammad Jahangir (1605-1627 M), Sultan Jihan (1627-1658
M) dan Aurangzeb atau Alamgir I (1658-1707M).
Pada masa pemerintahan Akbar, kerajaan Mugal mencapai keemasannya. Akbar
menerapkan polotik sulakhul ( toleransi universal ), yaitu politik yang
menekankan kesamaan derajat rakyat India. Mereka tidak dibedakan karena
perbedaan etnis dan agama.
Mantapnya stabilitas politik pada masa pemerintahan Akbar membawa kemajuan
dalam berbagai bidang, seperti ekonomi,pertanian, seni dan budaya. Dalam bidang
ekonomi kerajaan Mugal mengembangkan pertanian, pertambangan, dan perdagangan.
Meskipun demikian , sumber keuangan negara lebih banyak bertumpu pada sektor
pertanian.
Hasil pertanian Kerajaan Mugal yang terpenting adalah biji-bijian, padi,
kacang, tebu, sayur-sayuran, rempah-rempah, tembakau, kapas, nila dan bahan-bahan
celupan.
Di samping untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, hasil pertanian juga di
ekspor ke Eropa, Arab, Afrika, dan Asia Tenggara. Sementara itu, hasil
kerajinan seperti pakaian tenun dan kain diproduksi di Gujarat dan Bengal.
Untuk meningkatkan produksi, Jahangir mengijinkan Ingris ( 1611 M ) dan Belanda
( 1617 M ) mendirikan pabrik pengolahan hasil pertanian di Surat.
Bersamaan dengan majunya bidang ekonomi, bidang seni dan budaya juga
berkembang. Karya seni terbesar yang dicapai Kerajaan Mugal adalah karya-karya
arsitektur yang indah dan mengagumkan. Sebagai contoh adalah Istana Fathpur
Sikri yang dibangun Akbar di Kota Sikri serta Taj Mahal yang dibangun Syeh
Jehan.
Setelah Aurangzeb meninggal, tahta kerajaan dipegang oleh raja-raja yang lemah.
Di pihak lain, pada pertengahan abad ke-18 M, Inggris sudah melakukan penjajahan di India. Pada tahun
1761 M, Inggris mulai menguasai sebagian wilayah kerajaan Mugal. Pada tahun
1858 M, Bahadur Syah II diusir Inggris dari istananya dan berakhirnya kekuasaan
Bahadur Syah II menandai berakhirnya Kerajaan Mugal.
d. Kerajaan Safawi di Persia ( sekarang Iran )
Kerajaan Safawi semula berasal dari sebuah gerakan tarekat yang diberi nama
tarekat Safawiyah. Tarekat ini berdiri di sebuah kota di Azerbaijan yang
bernama Ardabil. Nama Safawiyah diambil dari nama pendiri tarekat yaitu Safi Al
Din ( 1252-1334 M ).
Kerajaan Safawi didirikan oleh Syah Ismail Syafawi ( Ismail I ) pada tahun
1501 M di Tabriz. Beliau berkuasa pada tahun 1501 – 1524 M yang wilayah kekuasaannya
di sebelah barat berbatasan dengan kerajaan Usmani ( Ottoman ) di Turki dan di
sebelah timur berbatasan dengan kerajaan Islam Mogul di India.
Setelah pemerintahan Syah Ismail Safawi berakhir. Silih berganti
sultan-sultan Kerajaan Safawi melanjutkan pemerintahannya hingga sebanyak 17
sultan.
Kerajaan Safawi mencapai puncak kejayaannya tatkala diperintah oleh Syah
Abbas (1858 – 1628 M). Beliau berjasa mempersatukan seluruh Persia, mengusir
Portugis dan kepulauan Hormuz, dan nama pelabuhan Gumran diubah menjadi Bandar
Abbas ( sampai sekarang ).
Setelah Syah Abbas berakhir dan digantikan oleh sultan-sultan berikutnya,
kedudukan kerajaan Safawi menjadi lemah. Kelemahan kerajaan Safawi antara lain
disebabkan adanya perebutan kekuasaan.
Selanjutnya Persia diperintah oleh Dinasti Zand (1759 – 1794), Dinasti
Qajar (1794 – 125), Dinasti Pahlevi (1925 – 1979). Kemudian sejak tanggal 11
Februari 179, melalui revolusi Islam yang dipimpin oleh ulama terkenal
Ayatullah Komeini ( 1900 1989 M ). Sistem kerajaan yang ribuan tahun berkuasa,
dihapus dan diganti dengan sistem republik (demokrasi) dengan nama “Jumhuri ye
Eslami-ye Iran” ( Republik Islam Iran ) dan dengan presiden pertamanya Abdul
Hassan Bani Sadr.
Pada waktu kerajaan-kerajaan Islam dan umat Islam di berbagai wilayah dari
benua Asia dan Afrika dalam keadaan lemah, sebaliknya di wilayah Eropa justru
dalam keadaan kuat dan maju khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi baru.
Salah satu penyebab bangsa Eropa kuat dan maju adalah pengaruh baru dunia Islam.
Pada awalnya bangsa Eropa mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan dari umat
Islam pada periode klasik ( periode kejayaan dan keemasan umat Islam ) seperti
ilmu kedokteran, ilmu sejarah, ilmu pertambangan dan ilmu kimia. Ilmu-ilmu
tersebut kemudia mereka dalami dan kembangkan sendiri sehingga berhasil
memperoleh kemajuan dan kekuatan serta berhasil melaksanakan revolusi di bidang
industri.[8]
BAB
III
PENUTUP
a. Kesimpulan
Dapat kita simpulkan
bahwa masuknya serangan dari luar merupakan salah satu yang menyebabkan
kemunduran Islam pada saat itu. Serangan yang dilakukan oleh Hulagu Khan
diberbagai daerah yang bisa melemahkan daripada kerajaan Islam hingga mengalami
keruntuhan. Kemunduran Islam itupun terjadi karena adanya beberapa faktor yang
mempengaruhinya, seperti dibidang Ekonomi yaitu dengan melemahnya ekonomi
hingga melemahkan daripada khilafah pada saat itu, terjadinya desintegritas
umat Islam yang membuat perpecahan diinternal umat Islam, krisis politik
ditandai dengan pemimpin yang tidak mengamalkan ajaran agama, krisis
pengetahuan seperti yang terjadi pada kerajaan Turki Utsmani dengan minimnya
pengetahuan yang menyebabkan kemunduran kerajaan Turki Utsmani pada saat itu,
dan krisis keagamaan. Maka, secara keseluruhan yang membuat Islam runtuh
dikarenakan runtuhnya khilafah yang telah diambil alih oleh pihak lain.
b. Saran
Saran saya kiranya
untuk menambah wawasan siswa, dosen memberikan judul buku atau nama
pengarangnya siapa sebagi referensi mahasiswa. Dengan demikian mahasiswa sangat
kemungkinan kecil membuat makalah dengan mengcopy paste di Internet.
DAFTAR PUSTAKA
Falahuddin,dkk, Kuliah Kemuhammadiyahan, LP2I,
Mataram.2015
Yatim Badri , Sejarah Kebudayaan
Islam, PT Rajawali Pes, Jakarta. 2014
Natta Abbudin, studi islam komperehensif, Kencana,
Jakarta. 2011
http://pendidikan-agama-islam-sma.blogspot.com/2015/11/perkembangan-islam-pada-abad.html