Jumat, 16 Juli 2021

MAKALAH PEMBARUAN ISLAM

 

MAKALAH

PEMBAHARUAN DALAM ISLAM

 

 

 

 

 

Disusun oleh :



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang Pembaharuan dunia Islam.

Adapun makalah ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan banyak terima kasih kepada teman-teman yang memberikan buku referensi kepada saya untuk membuat makalah ini. Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusun bahasa, maupun segi lainnya. Oleh karena itu, dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin member saran dan kritik kepada kami sehingga kami dapat memperbaiki makalah sejarah kemundura islam.

Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah ini tentang kemunduran dunia Islam ini dapat diambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan inspirasi bagi pembaca.

 

 

 

 

Air Rami ,05 Juni  2021

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

 

 

KATA PENGANTAR...........................................................................................................i

DAFTAR ISI. .......................................................................................................................ii

BAB I……………………………………………………………………………………….

1.1      Latar Belakang……………………………………………………………………   .

1.2      Rumusan Masalah. …………………………………………………………………..

1.3      Tujuan Pembahasan…………………………………………………………  ……..

BAB II……………………………………………………………………………………....

2.1      Pengertian Pembaharuan dalam Islam……………………………………………....

2.2      Persamaan dan Perbedaan dengan Modernisasi, Reformulasi, Revitalisasi, Rekontruksi, Reaktualisasi, dan Reinterpretasi.......................................................................

2.3      Latar Belakang pembaharuan Islam di Dunia beserta tokoh tokohnya. ……..............

2.4      Manfaat Sejarah Islam pada Masa Pembaharuan……………………………….........

BAB III…………………………………………………………………………… ……….

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………....

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

 

Umat Islam tradisional hingga saat ini tampak ada perasaan masih belum menerima apa yang dimaksud dengan pembaharuan Islam. Mereka memandang bahwa pembaruan Islam adalah membuang ajaran Islam yang lama diganti dengan ajaran Islam baru, padahal ajaran Islam yang lama itu berdasarkan pada hasil ijtihad para ulama besar yang dalam ilmunya, taat beribadah dan unggul kepribadiannya, sedangkan ulama yang ada sekarang dipandang kurang mendalam ilmu agamanya, kurang taat dalam ibadahnya dan kurang baik budi pekertinya. Oleh karena itu, umat Islam tradisional beranggapan bahwa ulama abad lampau sudah cukup baik dan tidak perlu diperbarui dengan ulama sekarang.

Adapula yang memahami pembaruan Islam dengan mengubah Al Quran dan Al Hadist, memahami Al Quran dan Al Hadist menurut selera orang yang memahaminya, atau mencocokan makna Al Quran dan Al Hadist sesuai penafsirnya. Dengan kata lain, pembaruan Islam dipersepsikan dengan upaya mencocokan kehendak Al Quran dan Al Hadist dengan kehendak orang yang menafsirkannya, bukan mengajak orang hidup sesuai Al Quran dan Al Hadist. Persepsi demikian hingga kini tampak dipegang terus oleh sebagian umat Islam tradisional, tanpa berdialog kembali dengan para tokoh pembaharu dalam Islam, maka muncullah kaum modernis dan kaum tradisionalis.

Pembaruan sebenarnya bukanlah yang dipersepsikan oleh kaum tradisional. Pembaruan Islam adalah upaya-upaya untuk menyesuaikan paham keagamaan Islam dengan perkembangan baru yang ditimbulkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Maka pembaruan Islam bukan berarti mengubah, mengurangi atau menambahkan teks Al Quran maupun teks Al Hadist. Melainkan hanya menyesuaikan paham atas keduanya sesuai dengan perkembangan zaman.

 

B.     Rumusan Masalah

1.      Apakah pengertian Pembaharuan Islam?

2.      Apakah perbedaan dan persamaan dengan moderenisasi, reformulasi, revitalisasi, rekonstruksi, reaktualisasi, dan reinterprestasi?

3.      Bagaimana Latar Belakang lahirnya pembaharuan dalam Islam dan Pro Kontra dalam pembaharuan Islam beserta Tokohnya?

4.      Apakah manfaatnya bagi kemajuan umat Islam?

 

C.    Tujuan Pembahasan

1.      Untuk mengetahui pengertian Pembaharuan Islam.

2.      Untuk mengetahui perbedaan dan persamaan Pembaharuan Islam dengan moderenisasi, reformulasi, revitalisasi, rekonstruksi, reaktualisasi, dan reinterprestasi.

3.      Untuk mengetahui Latar Belakang lahirnya pembaharuan dalam Islam dan Pro Kontra dalam pembaharuan Islam beserta tokohnya

4.      Untuk mengetahui manfaatnya bagi kemajuan umat Islam.

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.       Pengertian Pembaharuan dalam Islam

Pembaharuan Islam adalah upaya-upaya untuk menyesuaikan paham keagamaan Islam dengan perkembangan baru yang ditimbulkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.[1] Dalam bahasa arab Pembaharuan Islam disebut Tajdid secara harfiah tajdid berarti pembaharuan dan pelakunya disebut Mujaddid. Dengan demikian pembaharuan dalam Islam bukan berarti mengubah, mengurangi atau menambahi teks Al-Quran maupun Hadits, melainkan hanya menyesuaikan paham atas keduanya.

Sesuai dengan perkembangannya zaman, hal ini dilakukan karena betapapun hebatnya paham-paham yang dihasilkan para ulama atau pakar di zaman lampau itu tetap ada kekurangannya dan selalu dipengaruhi oleh kecenderungan, pengetahuan, situasional, dan sebagainya. Paham-paham tersebut untuk di masa sekarang mungkin masih banyak yang relevan dan masih dapat digunakan, tetapi mungkin sudah banyak yang tidak sesuai lagi. Kata tajdid sendiri secara bahasa berarti “mengembalikan sesuatu kepada kondisinya yang seharusnya”.

Dalam bahasa Arab, sesuatu dikatakan “jadid” (baru), jika bagian-bagiannya masih erat menyatu dan masih jelas. Maka upaya tajdid seharusnya adalah upaya untuk mengembalikan keutuhan dan kemurnian Islam kembali. Atau dengan ungkapan yang lebih jelas, Thahir ibn ‘Ansyur mengatakan, Pembaharuan agama itu mulai direalisasikan dengan mereformasi kehidupan manusia di dunia. Baik dari sisi pemikiran agamisnya dengan upaya mengembalikan pemahaman yang benar terhadap agama sebagaimana mestinya, dari sisi pengamalan agamisnya dengan mereformasi amalan-amalannya, dan juga dari sisi upaya menguatkan kekuasaan agama.

Rasulullah pernah mengisyaratkan bahwa[2]

Ø¥ِÙ†َّ اللَّÙ‡َ ÙŠَبْعَØ«ُ Ù„ِÙ‡َذِÙ‡ِ الأُÙ…َّØ©ِ عَÙ„َÙ‰ رَØ£ْسِ ÙƒُÙ„ِّ Ù…ِائَØ©ِ سَÙ†َØ©ٍ Ù…َÙ†ْ ÙŠُجَدِّدُ Ù„َÙ‡َا دِينَÙ‡َا

 Sesungguhnya Allah akan mengutus (menghadirkan) bagi umat ini (umat Islam) orang yang akan memperbaharui (urusan) agama mereka pada setiap akhir seratus tahun” (HR. Daud)

Tajdid yang dimaksud oleh Rasulullah saw di sini tentu bukanlah mengganti atau mengubah agama, akan tetapi seperti dijelaskan oleh Abbas Husni Muhammad maksudnya adalah mengembalikannya seperti sediakala dan memurnikannya dari berbagai kebatilan yang menempel padanya disebabkan hawa nafsu manusia sepanjang zaman. Tema “mengembalikan agama seperti sediakala” tidaklah berarti bahwa seorang pelaku tajdid (mujaddid) hidup menjauh dari zamannya sendiri, tetapi maknanya adalah memberikan jawaban kepada era kontemporer sesuai dengan Syariat Allah Ta’ala setelah ia dimurnikan dari kebatilan yang ditambahkan oleh tangan jahat manusia ke dalamnya. Itulah sebabnya, di saat yang sama, upaya tajdid secara otomatis digencarkan untuk menjawab hal-hal yang mustahdatsat (persoalan-persoalan baru) yang kontemporer. Dan untuk itu, upaya tajdid sama sekali tidak membenarkan segala upaya mengoreksi nash-nash syar’i yang shahih, atau menafsirkan teks-teks syar’i dengan metode yang menyelisihi ijma’ ulama Islam[3]. Sama sekali bukan.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tajdid dalam Islam mempunyai 2 bentuk:

Pertama, memurnikan agama setelah perjalanannya berabad-abad lamanya dari hal-hal yang menyimpang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Konsekuensinya tentu saja adalah kembali kepada bagaimana Rasulullah SAW dan para sahabatnya mengejawantahkan Islam dalam keseharian mereka.

Kedua, memberikan jawaban terhadap setiap persoalan baru yang muncul dan berbeda dari satu zaman dengan zaman yang lain. Meski harus diingat, bahwa “memberikan jawaban” sama sekali tidak identik dengan membolehkan atau menghalalkannya. Intinya adalah bahwa Islam mempunyai jawaban terhadap hal itu. Berdasarkan ini pula, maka kita dapat memahami bahwa bidang-bidang tajdid itu mencakup seluruh bagian ajaran Islam. Tidak hanya fikih, namun juga aqidah, akhlaq dan yang lainnya. Tajdid dapat saja dilakukan terhadap aqidah, jika aqidah umat telah mengalami pergeseran dari yang seharusnya.

Pembaruan Islam dapat pula berarti mengubah keadaan umat agar mengikuti ajaran yang terdapat didalam Al Quran dan Al-Sunnah. Diperlukan karena terjadi kesenjangan antara yang dikehendaki Al Quran dengan kenyataan di masyarakat. Al Quran misalnya mendorong umatnya agar menguasai pengetahuan agama dan pengetahuan modern serta teknologi secara seimbang: hidup bersatu, rukun dan damai yang bersifat dinamis, kreatif, inovatif, demokratis, terbuka, menghargai pendapat orang lain, menghargai waktu dan menyukai kebersihan.[4]

Pembaharuan dalam Islam telah banyak mengemukakan ide pembaruan dalam Islam dengan maksud seperti diungkapkan diatas, Muhammad Abduh dengan cara menghilangkan bid’ah yang terdapat dalam ajaran Islam kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya dibuka kembali ke pintu ijtihad. Sementara itu, Sayyid Ahmad Khan bahwa untuk mencapai kemajuan perlu meninggalkan paham qadariah , perlu percaya bahwa hukum alam dengan wahyu yang ada dalam Al Quran tidak bertentangan.

Maka dari itu, Pembaruan dalam Islam bukan mengubah Al Quran dan Al Hadist, tetapi justru kembali kepada Al Quran dan Al Hadist, sebagai sumber ajaran Islam yang utama.

Banyak sekali peristilahan yang digunakan para penulis yang dalam bahasa Indonesia berkonotasi pembaharuan, umpamanya tajdid, ishlah, reformasi, ‘ashriyah, modernisasi, revivalisasi, resurgensi (resurgence), reassersi (reassertion), renaisans, dan fundamentalis. Peristilahan seperti ini timbul, bukan sekedar perbedaan semantik belaka, akan tetapi dilihat dari isi pembaharuan itu sendiri.

B.       Persamaan dan Perbedaan dengan Modernisasi, Reformulasi, Revitalisasi, Rekontruksi, Reaktualisasi, dan Reinterpretasi

 

1.      Modernisasi

Modernisasi secara implikatif, merupakan proses yang cenderung mengikis dan menghilangkan pola-pola lama dan kemudian memberinya status modern pada pola- pola yang baru[5]. Pandangan ini berlandaskan pada terjadinya revolusi industri di Barat, atau berarti modernisasi adalah suatu proses transformasi perubahan bentuk dari masyarakat tradisional menuju masyarakat modern.[6]

Zaman modern sebenarnya didorong oleh perkembangan filsafat Barat, yang memberikan fokus pada pembahasan humanitas, individualisme dan kebebasan. Hingga pada akhirnya arah kecenderungan ini membawa konsekuensi yang mengakibatkan keraguan-keraguan skiptis. Sebab yang lain dari modernisasi adalah semakin menguatnya industrialisasi. Sebaliknya di negara-negara yang sedang berkembang industrialisasi justru di sebabkan oleh modernisasi[7]

Persamaan dari Modernisasi dengan Pembaharuan ialah modernisasi identik terhadap zaman barat, sedangkan modern dalam peristilahan Arab dikenal dengan kata Tajdid yang artinya dalam bahasa Indonesia diartikan dengan pembaharuan. Dalam konteks pemikiran modern dalam Islam, ia merupakan suatu wacana yang mengawali perubahan mendasar bagi Islam sebagai suatu nilai ajaran dan umatnya sebagai pembuat arus perubahan tersebut.

2.      Reformulasi

Muhaimin menyatakatan “Setiap reformasi dan pembaharuan dalam Islam harus dimulai dengan pendidikan”[8]

Reformulasi berasal dari gabungan “re‟ dan formulasi yang mempunyai arti merumuskan ulang. Secara terminologis, reformulasi berarti merumuskan ulang atau merancang ulang konsep dan pelaksanaan pendidikan Islam.[9]

3.      Revitalisasi

Diperlukan adanya pembaharuan ajaran Islam untuk menghadapi berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat. Sungguh banyak nass, baik yang berasal dari Al-Quran dan hadits yang menganjurkan kaum muslim untuk melakukan pembaharuan. Di dalam surat Al- Ra’d ayat 11, disebutkan bahwa Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum terkecuali kaum itu sendiri berusaha merubahnya.[10]

Revitalisasi berbeda dengan pembaharuan. Pembaharuan tersebut tidak mengubah tetapi menyesuaikan dengan zaman sedangkan revitalisasi menggiatkan yang sudah ada tetapi belum tentu menyesuaikan. Tetapi bisa juga revitalisasi dilakukan setelah pembaharuan untuk membuat nilai-nilai Islam semakin mendarah daging.

4.      Rekonstruksi

Menurut KBBI, Rekonsturkis adalah /re·kon·struk·si/ /rékonstruksi/ n   pengembalian seperti semula[11] Rekontruksi berbeda dengan pembaharuan. Rekonstruksi adalah pengembalian seperti semula sedangkan pembaharuan menyesuaikan dengan zaman sekarang dan tidak kembali saat zaman rasulullah.

5.      Reaktualisasi

Menurut KBBI reaktualisasi adalah /re·ak·tu·a·li·sa·si/ /réaktualisasin proses, cara, perbuatan mengaktualisasikan kembali; penyegaran dan pembaruan nilai-nilai kehidupan masyarakat.[12]Reaktualisasi sama dengan pembaharuan karena reaktualisasi menyegarkan dari kejadian lampau sehingga menyesuaikan dengan kejadian zaman sekarang.

6.      Reinterpretasi

Menurut KBBI Reinterpretasi adalah /re·in·ter·pre·ta·si/ /réinterpretasin penafsirkan kembali (ulang); proses, cara, perbuatan menafsirkan kembali terhadap interpretasi yang sudah ada.[13] Reinterpretasi bisa juga disebut pembaharuan karena ia menafsirkan kembali yang sudah ada tetapi belum tentu menyesuaikan.

 

C.  Latar Belakang pembaharuan Islam di Dunia beserta tokoh tokohnya

1.      Islam Klasik 650-1250 M

Sepeninggal nabi muncul problem tentang siapa yang pantas menggantikan nabi, sebab nabi tidak meninggalkan wasiat mengenai pergantian kemimpinan. Kelompok muhajirin dan anshar masing-masing mengklaim paling berhak menggantikan posisi nabi. Ketika peristiwa itu berlangsung, umar bin khattab datang dan mengusulkan abu bakar sebagai orang yang paling pantas menggantikan nabi karena kedekatan dan senioritasnya. Lalu umar membaiat abu bakar dan diikuti oleh yang lainnya. Proses pemilihan abu bakar dilakukan secara aklamasi oleh perorangan yaitu ummar bin khattab lalu disetujui kaum muslimin. Pembaiatan abu bakar pun dilakukan sekali lagi di masjid Nabawi.

Sayidina Ali bin abi thalib tidak membaiat abu bakar karena masih mengurus jenazah nabi dan menenggang perasaan isterinya, fatimah, yang menurut tanah warisan nabi tapi tidak dikabulkan abu bakar. Baru setelah fatimah wafat ali pun membaiat abu bakar. pemilihan khalifah dilakukan secara demokratis. Cara ini dilakukan karena rasulullah tidak menunjuk pengganti atau mewariskan kemimpinannya kepada seseorang.

Periode klasik ini dapat pula dibagi dua ke dalam dua masa, masa kemajuan dan masa disintegrasi[14]. masa kemajuan Islam 650-1000 M. Masa ini masa ekspansi, integrasi dan keemasan Islam. Dalam hal ekspansi, sebelum nabi muhammad wafat di tahun 623 M. Seluruh semenanjung arabia telah tunduk ke bawah kekuasaan Islam. Ekspansi kedaerah-daerah di luar arabia dimulai dizaman khalifah pertama, Abu bakar Al-Siddik.

Sayidina Abu bakar menjadi khalifah di tahun 632 M . tetapi dua tahun kemudian meninggal dunia. Masanya yang singkat itu dipergunakan untuk menyelesaikan perang riddah, yang dimbulkan oleh suku-suku bangsa arab yang tidak mau tunduk lagi kepada madinah. lalu dilanjutkan oleh khlifah kedua, Umar Ibn Al-Khattab (634-644 M). Di zamannyalah gelombang ekspansi pertama terjadi, kota damaskus jatuh di tahun 635 M. Dan setahun kemudian, setelah tentara binzantium kalah pertempuran di yarmuk, jatuh ke bawah kekuasaan Islam. Ekspansi di teruskan ke irak dan mesir. Irak jatuh di tangan Islam pada tahun 637 M sedangkan, mesir jatuh di tangan Islam pada tauhn 640 M . Setelah irak jatuh ke tangan Islam, lalu dilanjutkan serangan di persia. Persia jatuh ditangan Islam pada tahun 641 M.

Di zaman Sayidina Usman Bin Affan (644-656 M), gelombang ekspansi pertama berhenti sampai di sini. Di kalangan umat Islam terjadi perpecahan karena soal pemerintahan dan dalam kekacauan yang timbul usman  mati terbunuh.[15]

Sebagai penganti Usman, Sayidina Ali Ibn Abi Thalib menjadi khalifah keempat  (656-661 M) tetapi mendapat tantangan dari pihak pendukung Usman terutam Mu’awiah. Ali, sebagaimana usman mati terbunuh, dan mu’awiah menjadi khalifah kelima. Mu’awiah selajutnya membentuk Dinasti Bani Umayyah (661-750 M) dan ekspansi gelombang kedua terjadi di zaman dinasti ini. Mu’awiah menerapkan pemerintahan semacam monarki yakni kekuasaan turun- menurun di kalangan keluarganya.

Jatuhnya dinasti bani umayyah adalah dari semenjak berdirinya, dinasti bani umayyah telah menghadapi tantangan-tantangan. Kaum khawarij pada mulanya adalah pengikut ali, tetapi tidak setuju dengan politik ali untuk mencari penyelesaian secara damai dengan mu’awiah tentang soal khalifah[16]. Tantangan keras yang akhirnya membawa kejatuhan bani umayyah datang dari pihak golongan Syi’ah. Golongan syi’ah adalah pengikut-pengikut yang setia dari ali dan berkeyakinan bahwa alilah sebenarnya yang harus menggantikan nabi untuk menjadi khalifah umat Islam. Akhirnya yang lansung membawa kepada jatuhnya kekuasaan bani umayyah ialah munculnya satu cabang lain dari Quraisy, yaitu Abu Al-Abbas. Abu al-abbas mengadakan kerja sama dengan kaum syi’ah. Serangan terhadap bani umayyah dimulai dari khurasan jatuh tahun 750 M. Tidak lama kemudian khalifah bani umayyah pun jatuh digantikan oleh abu al-abbas sebagai khalifah.[17]

Keberhasilan menumbangkan dinasti umayyah tersebut tidak dapat dilepaskan dari beberapa faktor yaitu pertama, gencarnya propaganda yang dilakukan oleh al-abbas kepada setiap penduduk yang kecewa atas kemimpinan dinasti bani umayyah, kedua, makin banyaknya pendukung dari segala lapisan masyarakat terhadap kaum pemberontak sehingga kebencian mereka terhadap bani umayyah menjadi faktor yang memundahkan mobilisasi massa, ketiga pemerintahan dinasti bani umayyah yang dianggap zalim ikut mendorong kebencian di rakyat, keempat, kelemahan yang dialami oleh dinasti bani umayyah sendiri. pada awal pemerintahan banyak masalah yang harus dihadapi. Namun, berkat bakat kemimpinannya semua permasalahan dapat diatasinya dengan baik. Kekuasaan khalifah makin lama makin tidak memilki pengaruh apa-apa. Keadaan ini tidak dapat dihindari oleh para khalifah penggantin berikutnya, karena para tentara keturunan turki yang makin lama makin banyak turut memberi dukungan bagi asyinas . secara politis pada khalifah dinasti abbasiyah lemah dan mundur, di pihak lain kemajuan intelektual, sains, dan filsafat terus berkembang. Bahkan kemajuan sains, dan filsafat makin bertambah pada masa Buwaih dengan bermunculnya para ilmuwan dan filosof dengan membawa pemikiran-pemikiran baru.[18]

Masa disintegrasi (1000-1250 M) dalam bidang politik sebenarnya telah mulai terjadi pada akhir zaman bani umayyah, tetapi memuncak di zaman bani abbasiyah. khalifah-khalifah bani abbasiyah[19] tetap diakui, tetapi kekuasaan dipengang oleh sultan-sultan Buwaihi. Kekuasaan dinasti buwaihi atas bagdad kemudian dirampas oleh dinasti Saljuk. Saljuk adalah seorang pemuka suku bangsa turki yang berasal dari Turkestan. Saljuk dapat memperluas daerah kekuasaan mereka sampai ke daerah yang dikuasai dinasti bawaihi. Dan semenjak itu sampai sekarang Asia kecil menjadi daerah Islam. Dengan jatuhnya asia kecil ke tangan dinasti saljuk, jalan naik haji ke palestina bagi umat Kristen di eropa menjadi terhalang. Untuk membuka jalan itu kembali Paus Urban II berseru kepada umat kristen di eropa di tahun 1095 M supaya mengadakan perang suci terhadap Islam. Perang salib pertama terjadi antara tahun 1096 M dan 1099 M, perang salib kedua antara tahun 1147 M dan 1149 M yang diikuti lagi oleh beberapa perang salib lainnya, tetapi tidak berhasil merebut palestina dari kekuasaan Islam. Di abad duapuluh inilah baru palestina jatuh ke tangan inggris sesudah kalahnya turki dalam perang dunia pertama. Perpecahan di kalangan umat Islam menjadi besar. Ekspansi Islam di zaman ini meluas ke daerah yang di kuasai binzatium di barat, ke daerah pedalaman di timur dan afrika memalui gurun sahara di selatan. Dinasti saljikah meluaskan daerah Islam sampai ke asia kecil dan dari sana kemudian diperluas lagi oleh dinasti usmani ke eropa timur. Di india Ekspansi Islam diteruskan oleh dinasti Gaznawi.

 

D.      Tokoh Pembaharuan Islam Klasik[20]

1.    Ilmu Kedokteran

Ilmu kedokteran masa ini masih merupakan bagian dari ilmu filsafat dan berkembang bersama-sama ilmu filsafat. Dokter pada masa ini adalah Al Razi dan Bin Sina.

·         Al Razi (865-925 M) yang terkenal di dunia barat dengan sebutan Rozes. Ia adalah murid Hunain Bin Ishaq. Sewaktu masih muda Al Razi hidup sebagai dokter kimia selanjutnya sebagai guru dokter medicine. Kitab-kitab karangan tidak kurang dari 200 jilid yang kebanyakan berisi ilmu kedokteran. Sebuah bukunya yang masyhur ialah “al-Hawi”. Buku ini merupakan sari ilmu Yunani, syria dan arab.

·         Ibn Sina, Abu Ali Husein bin Abdullah bin Sina, lahir di Afsyana, suatu tempat yang terletak di dekat Bukhara di tahun 980 M. Ibn Sina menulis ensiklopedi tentang ilmu kedokteran yang terkenal dengan nama al Qanun fi al Thib. Ilmu ketabiban modern mendapat pelajaran dari Ibnu Sina. Penulis barat yang mnejuluki ‘Bapak Dokter”.

1.      Ilmu Filsafat[21]

§  Al Kindi (796-873 M) Al Kindi, Abu Yusuf bin Ishaq, berasal dari Kindah di yaman, lahir di Kufah (Irak) tahun 796 M. Di kalangan kaum muslimin, orang yang pertama memberikan pengertian filsafat dan lapangannya. Al Kindi terkenal dengan sebutan ‘Filosuf Arab”. Al Kindi banyak mengarang buku tetapi jumlahnya tidak ada kesepakatan para penulis biografi. Isi karangannya meliputi filsaft, logika, ilmu hitung, astronomi, kedokteran, ilmu jiwa, politik, optik, musik, matematika dan sebagainya.

§  Al Farabi, Al Farabi adalah Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Thankhan, lahir di Farab tahun 257 H/870 M. Al Farabi luas pengetahuannya, mendalami ilmu-ilmu yang ada pada zamannya, serta mengarang buku-buku dalam ilmu tersebut. Buku-bukunya menunjukkan bahwa ia mendalami ilmu-ilmu bahasa, matematika, kimia, astronomi, kemiliteran, musik, ilmu alam, ketuhanan, fisika, dan mantik. Al farabi mendapat gelar “Guru Kedua” (al-mu’allimu al-Tsani).

§  Al Ghazali, Al Ghazali adalah Abu Hamid bin Muhammad Al Ghazali, (w. 505 H/1111M). Dalam sejarah filsafat Islam ia dikenal sebagai orang yang pada mulanya syak terhadap segalanya. Ia syak terhadap ilmu kalam karena terdapat bebrapa aliran yang saling bertentanagn. Sesudah ia mempelajari filsafat, ternyata Al Ghazali juga menemukan argumen-argumen yang bertentanagn dengan ajaran islam. Maka, ia mengarang buku maqasid al Falasifah yang menjelaskan pemikiran-pemikiran filsafat. Karya Al ghazali Ihya Ulumuddin, Tahafut al falasifah dan lain-lain.

§  Ibn Rusyd, Ibn Rusyd adalah Abu al walid muhammad bin Muhammad bin Rusyd, lahir di Cordova tahun 1126 M. Ibn Rusyd dikatakan orang besar ilmu filsafat. Ia telah membangun eropa dengan pikiran-pikiran Islam dan mengantarkan dunia barat ke pintu gerbang renaisance. Dalam bidang kedokteran terdapat 16 jilid karangannya. Buku itu bernama ‘Kulliyat fi al Thib” (aturan umum kedokteran). Ibn Rusyd juga meninggalkan karangan-karangannya dalam ilmu hukum misalnya Bidayat al Mujtahid.

2.      Ilmu Optik[22]

Dalam ilmu ini yang terkenal namanya adalah Abu Ali al hasan bin al Haytam (965 M). Orang eropa menyebutnya Alhazen. Ia ahli dalam ilmu mata (optik), cahaya, dan warna. Bukunya “kitab al Manazhir”mengenai ilmu cahaaya diterjemahkan ke bahasa latin di masa gerard of Cremona dan disiarkan pada tahun 1572.`

1.      Ilmu Astronomi

·         Al Fazari adalah orang pertama yang mengerjakan astrolobe. Model astrolobe mungkin diambil dari Yunani, jika dilihat dari Arab-nya, Asthurlab. Di sana buku-buku terbitan pertama yang ditulis mengenai astrolobe ini ialah yang ditulis oleh Ali bin Isa al Asthurlabi, hidup di Bagdad dan Damaskus sebelum tahun 830 M.

·         Al Farghani, Ahli astronomi yang terkemuka lainnya dalam periode adalah Abu al Abbas Ahmad al Farghani (Al Fraganus). Karyanya yang utama adalah “Al Mudkhi Ila ilmi Hayai al Aflal” yang pada tahun 1135 diterjemahkan ke daalm bahasa latin oleh John dari Sevilla dan Gerard dari cremona.

·         Al Battani (Albateganius) Ia adalah seorang ahli perbandingan yang terbesar dan penyelidikannya yang tekun. Ia membuktikan tentang kemungkinan gerhana matahari yang berbentuk cincicn, serta berhasil menentukan dengan tepat sekali garis edar matahari.

·         Al Biruni, Al Biruni (973-1050 M). Ia adalah seorang paling terkemuka di bidang ilmu pasti. Ia menguasai selain bahasa Arab, Sangkrit, Persia juga bahasa-bahasa Hibrew, syria, dan Turki. Pada tahun 1030 M beliau menulis sebuah buku yang berjudul Al qamun al Mas’udi fi al Nujum.

 

2.      Islam Pertengahan 1250-1800 M[23]

Keturunan Jengis Khan datang membawa penghancuran ke dunia Islam[24]. jengis khan berasal dari mongolia. Setelah menduduki Peking di tahun 1212 M, ia mengalihkan serangan-serangannya ke arah barat. Satu demi satu kerajaan-kerajaan Islam di barat jatuh ke tangannya di tahun 1219/1220 M. Dari sini ia meneruskan serangan-serangannya ke eropa dan ke rusia. Pada permulaan tahun 1258 M ia sampai ke tepi kota bagdad. Pemerintah untuk menyerah ditolak oleh khalifah Al-Musta’sim dan kota bagdag di kepung. Pada tahun 1258 benteng bagdad ditembus dan dihancurkan hulagu. Hulagu bukanlah beragama Islam dan anaknya Abaga (1265-1281 M) masuk kristen. Ghasan Mahmud (1295-1304 M) juga masuk Islam dan demikian juga Uljaytun Khuda Banda (1305-1316 M). Uljaytun pada mulanya beragama kristen adalah Raja Mongol besar yang terakhir.

Pada itu Timur Link, seorang yang berasal dari keturunan Jengis Khan dapat menguasai Samarkand di tahun 1369 M. Kedatangannya ke daerah-daerah di antara Delhi dan laut Marmara membawa penghancuran. Mesjid-mesjid dan madrasah-madrasah dihancurkan.

Pasukan mongol pada tahun (1260-1277 M) melakukan pengacuran di mesir, tetapi sebaliknya pasukan mongol dihancurkan oleh mesir.[25] Pada tahun 1250 M kekuasaan mesir dikuasai kaum Mamluk.

Di india juga persaingan dan peperangan untuk merebut kekuasaan selalu terjadi sehingga india senantiasa menghadapi perubahan penguasa. Kekuasaan dinasti ghazanawi dipatahkan oleh pengikut Ghaur Khan, yang juga berasal dari salah satu suku bangsa Turki. Mereka masuk ke india di tahun 1175 M , dan bertahan samapai tahun 1206 M.

Di spanyol timbul peperangan antara dinasti-dinasti Islam yang ada di sana dengan raja-raja kristen. Di dalam peperangan itu raja-raja kristen dapat memakai politik Adu-Domba antara dinasti-dinasti Islam. Raja-raja kristen mengadakan persatuan sehingga satu demi satu dinasti Islam dapat dikalahkan. Di tahun 1609 M boleh dikatakan tidak ada lagi orang Islam di spanyol. Di zaman inilah penghacuran khilafah secara formal. Islam tidak lagi mempunyai khalifah, yang diakui oleh semua umat sebagai lambang persatuan dan ini berlaku sampai kerajaan usmani mengangkat khalifah yang baru di istanbul di abad keenam belas.[26]

Periode usmani (1299-1422) dimulai dari awal berdirinya perluasan pertama sampai kehancuran sementara oleh serangan Timur Lenk. Pada masa usman dilakukan ekspansi Islam dengan merebut wilayah dikuasai Bizantium. Orkhan menggantikan usman, juga dapat menundukkan wilayah turkeman, nicaea, nicomedia, dan dapat mengontrol wilayah antara teluk edremit meluaskan wilayah eropa. Bayazid, putra murad, menggantikannya. Bayazid menaklukan wilayah yang belum ditundukkan sultan-sultan sebelumnya. Di masanya terjadi peperangan besar antara pasukan usmani melawan tentara sekutu eropa yang dimenangkan oleh pasukan usmani. Pasukan bayazid juga harus menghadapi pasukan mongol dibawah komando Timur Link. Karena jumlah pasukannya tidak seimbang, ia pun dikalahkan dan ditawan oleh timur lenk dan wafat di tahun 1402.[27]

Di Turki ada tiga kerajaan yaitu, Sultan Muhammad Al-Fatih (1451-1481 M) dari kerajaan usmani mengalahkan kerajaan bizantium dengan menduduki istanbul di tahun 1453 M. Ekspansi ke arah barat dengan demikian berjalan lebih lancar. Pengganti sultan muhammad al-fatih adalah sultan salim (1512-1520 M) sultan salim memilki kemampuan memerintah dan memimpin peperangan. Pada masa pemerintahannya wilayah usmani bertambah luas menembus afrika utara, syiria, dan mesir. Kemajuan-kemajuan lain dibuat oleh Sultan Sulaiman Al- Qanuni (1512-1566 M)[28]. Sultan sulaiman adalah sultan usmani yang terbesar. Wilaya kekuasaannya mencakup tiga benua yaitu ASIA, AFRIKA, dan EROPA. Pada di tahun (1556-1699 M) ditandai dengan kemampuan Usmani mempertahankan wilayahnya sampai lepasnya Hungaria. Pada periode ini mulai bermunculan pemberontakan dan usaha-usaha memisahkan diri dari pemerintahan usmani. Di tahun (1699-1839 M) ditandai dengan surutnya kekuatan kerajaan dan pecahnya wilayah di tangan penguasa wilayah. Tanda-tanda ini semakin tampak, kekuatan asing seperti Rusia dan Australia mulai memainkan perannya dalam memanfaatkan kelemahan militer usmani. Perang berakhir pada tahun 1774, dimana turki kehilangan Crimea. Jelasnya di abad 18, Turki Usmani mengalami penurunan kekuasaan. Wilayah-wilayah kekuasaannya di berbagai benua satu persatu mulai menunjukkan ketidakloyalannya.

Pada di tahun (1839-1922) ditandai dengan kebangkitan kultural dan administratif dari negara di bawah pengaruh ide-ide barat. Pada periode ini dilakukan pembaharuan politik, administratif dan kebudayaan hingga kejatuhannya di tahun 1924 dan berganti menjadi Republik. Khilafah Turki Usmani dihapuskan oleh Kemal Attaturk, dan turki dirombak menjadi negara Nasional Republik Turki.[29]

Melalui bangsa Arab (Islam), Eropa dapat memahami ilmu pengetahuan kuno seperti dari Yunani dan Babilonia. Tokoh tokoh yang mempengaruhi ilmu pengetahuan dan kebudayaan saat itu antara lain sebagai berikut.

1.      Al Farabi (780-863M)[30]

Al Farabi mendapat gelar guru kedua (Aristoteles digelari guru pertama). Al Farabi mengarang buku, mengumpulkan dan menerjemahkan buku-buku karya aristoteles

1.      Ibnu Rusyd (1120-1198)

Ibnu Rusyd memiliki peran yang sangat besar sekali pengaruhnya di Eropa sehingga menimbulkan gerakan Averoisme (di Eropa Ibnu Rusyd dipanggil Averoes) yang menuntut kebebasan berfikir. Berawal dari Averoisme inilah lahir roformasi pada abad ke-16 M dan rasionalisme pada abad ke-17 M di Eropa. Buku-buku karangan Ibnu Rusyd kini hanya ada salinannya dalam bahasa latin dan banyak dijumpai di perpustakaan-perpustakaan Eropa dan Amerika. Karya beliau dikenal dengan Bidayatul Mujtahid dan Tahafutut Tahaful.

1.      Ibnu Sina (980-1060 M)

Di Eropa, Ibnu Sina dikenal dengan nama Avicena. Beliau adalah seorang dokter di kota Hamazan Persia, penulis buku-buku kedokteran dan peneliti berbagai penyakit. Beliau juga seorang filsuf yang terkenal dengan idenya mengenai paham serba wujud atau wahdatul wujud. Ibnu Sina juga merupakan ahli fisika dan ilmu jiwa. Karyanya yang terkenal dan penting dalam dunia kedokteran yaitu Al Qanun fi At Tibb yang menjadi suatu rujukan ilmu kedokteran

3.      Islam modern

Pada zaman modern itu memang muncul dan dimulai di Eropa barat laut, yakni Inggris dan Prancis. Eropa barat laut, bahkan seluruh eropa, adalah daerah pinggiran.[31] Maka timbul persepsi bahwa daerah pinggiran tidak semestinya menjadi tempat lahirnya suatu terobosan sejarah yang begitu dasyat seperti zaman modern ini. Zaman modern itu tidak muncul dari eropa barat alut, tentu akan muncul dalam waktunya yang tepat, entah di negeri China ( karena industrialismenya) atau di dunia Islam (karena etos intelektualnya). Dan dari dua kemungkinan itu, dunia Islam memiliki peluang lebih besar, sebab etos intelektual atau keilmuan adalah dasar dari pengembangan peradaban modern ini.

Agama Islam berkepentingan untuk memacu pembaruan, peningkatan dan pengembangan kehidupan. ia berkepentingan mendorong seluruh potensi manusia agar dapat berkreasi, agar membesar dan meningkat. Islam bukan hanya sebagai ritus-ritus yang haruskan dilaksanakan, bukan hanya da’wah akhlak,bukan hanya sebagai suatu sistem pemerintahan, sistem perekonomian atau sistem hubungan internalsional. Islam merupakan gerakan inopatif dan kreatif. Untuk mewujudkan sebuah kehidupan yang belum pernah ada sebelumnya dan belum pernah diatur oleh perundang-undang yan dibuat orang pada zaman sebelum maupun sesudah datangnya Islam. Daya inopasi dan kreasi yang dibawa oleh Islam itu ditunjukan kepada setiap hati atau kalbu, dan kalbu selanjutnya mengejawatahkannya dalam kenyataan.

Dalam memahami kedudukan dan fungsi ilmu pengetahuan dan informasi-informasi ilmiah (terutama di zaman sekarang yang sering disebut era informasi), pengertian Qur’ani tentang “ayat” itu perlu dipahami dengan baik dan direnungkan secara mendalam . tetapi dalam telaah lebih lanjut, perkataan “ayat” juga mengandung makna “sumber pelajaran” atau” sumber mencari dan menemukan kebenaran”, seperti perkataan itu digunakan dalam rangkaian frase “ayat al-qur’an”.[32]

Gerakan kebangkitan yang dipelopori al-jabarti di atas terputus beberapa tahun ketika terjadi penduduk Napoleon dari prancis atas mesir (1798-1802 M). Namun pendudukan itu sendiri memberikan saham yang tidak dapat dikatakan kecil bagi kebangkitan mesir pada masa selanjutnya, termasuk dalam bidang sejarah. Setelah prancis meninggalkan mesir, penguasa baru mesir Muhammad Ali Pasya bertekad untuk memulai pembangunan mesir dengan meniru barat. Muhammad Ali Pasya bertekad untuk memulai pembangunan mesir dengan meniru barat. Pada masa ini gerakan penulisan sejarah yang dipelopori al-jabarti disusul oleh Isma’il al-Kasyasyaf dan al-athathar yang mulai mendapat pengikut di al-azhar juga terhenti sebagaimana pada masapendudukan napoleon tersebut. Di awal paroan kedua abad ke-19, muncul dua kelompok yang menjadi pelopor kedua setelah al-jabarti dalam kebangkitan penulisan sejarah.

Kaum muslim memiliki banyak sekali tokoh – tokoh pembaruan yang pokok – pokok pemikirannya maupun jasa-jasanya di berbagai bidang telah memberikan sumbangsih bagi uamt Islam di dunia. Beberapa tokoh yang terkenal dalam dunia ilmu pengetahuan atau pemikiran Islam tersebut antara lain sebagai berikut.

1.      Jamaludin Al Afgani (Iran 1838 – Turki 1897)

Salah satu sumbangan terpenting di dunia Islam diberikan oleh sayid Jamaludin Al Afgani. Gagasannya mengilhami kaum muslim di Turki, Iran, mesir dan India. Meskipun sangant anti imperialisme Eropa, ia mengagungkan pencapaian ilmu pengetahuan barat. Ia tidak melihat adanya kontradiksiantara Islam dan ilmu pengetahuan. Namun, gagasannya untuk mendirikan sebuah universitas yang khusus mengajarkan ilmu pengetahuan modern di Turki menghadapi tantangan kuat dari para ulama. Pada akhirnya ia diusir dari negara tersebut.

1.      Muhammad Abduh (mesir 1849-1905) dan Muhammad Rasyd Rida (Suriah 1865-1935)

Guru dan murid tersebut sempat mengunjungi beberapa negara Eropa dan amat terkesan dengan pengalaman mereka disana. Rasyd Rida mendapat pendidikan Islam tradisional dan menguasai bahasa asing (Perancis dan Turki) yang menjadi jalan masuknya untuk mempelajari ilmu pengetahuan secara umum. Oelh karena itu, tidak sulit bagi Rida untuk bergabung dengan gerakan pembaruan Al Afgani dan Muhammad Abduh di antaranya melalui penerbitan jurnal Al Urwah Al Wustha yang diterbitkan di paris dan disebarkan di Mesir. Muhammad Abduh sebagaimana Muhammad Abdul Wahab dan Jamaludin Al Afgani, berpendapat bahwa masuknya bermacam bid’ah ke dalam ajaran Islam membuat umat Islam lupa akan ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya. Bid’ah itulah yang menjauhkan masyarakat Islam dari jalan yang sebenarnya.

1.      Toha Husein (Mesir Selatan 1889-1973)[33]

Toha husein adalah seorang sejarawan dan filsuf yang amat mendukung gagasan Muhammad Ali Pasya. Ia merupakan pendukung modernisme yang gigih. Pengadopsian terhadap ilmu pengetahuan modern tidak hanya penting dari sudut nilai praktis (kegunan)nya saja, tetapi juga sebagai perwujudan suatu kebudayaan yang amat tinggi. Pandangannya dianggap sekularis karena mengunggulkan ilmu pengetahuan.

1.      Sayid Qutub (Mesir 1906-1966) dan Yusuf Al Qardawi

Al qardawi menekankan perbedaan modernisasi dan pembaratan. Jika modernisasi yang dimaksud bukan berarti upaya pembaratan dan memiliki batasan pada pemanfaatan ilmu pengetahuan modern serta penerapan tekhnologinya, Islam tidak menolaknya bahkan mendukungnya. Pandangan al qardawi ini cukup mewakili pandangan mayoritas kaum muslimin. Secara umum, dunia Islam relatif terbuka untuk menerima ilmu pengetahuan dan tekhnologi sejauh memperhitungkan manfaat praktisnya. Pandangan ini kelak terbukti dan tetap bertahan hingga kini di kalangan muslim. Akan tetapi, dikalangan pemikir yang mempelajari sejarah dan filsafat ilmu pengetahuan, gagasan seperti ini tidak cukup memuaskan mereka.

1.      Sir Sayid Ahmad Khan (india 1817-1898) [34]

Sir Sayid Ahmad Khan adalah pemikir yang menyerukan saintifikasi masyarakat muslim. Seperti halnya Al Afgani, ia menyerukan kaum muslim untuk meraih ilmu pengetahuan modern. Akan tetapi, berbeda dengan Al Afgani ia melihat adanya kekuatan yang membebaskan dalam ilmu pengetahuan dan tekhnologi modern. Kekuatan pembebas itu antara lain meliputi penjelasan mengenai suatu peristiwa dengan sebab-sebabnya yang bersifat fisik materiil. Di barat, nilai-nilai ini telah membebaskan orang dari tahayuldan cengkeraman kekuasaan gereja. Kini, dengan semangat yang sama, Ahmad Khan merasa wajib membebaskan kaum muslim dengan melenyapkan unsur yang tidak ilmiah dari pemahaman terhadap Al Qur’an. Ia amat serius dengan upayanya ini antara lain dengan menciptakan sendiri metode baru penafsiran Al Qur’an. Hasilnya adalah teologi yang memiliki karakter atau sifat ilmiah dalam tafsir Al Qur’an

1.      Sir Muhammad Iqbal (Punjab 1873-1938)[35]

Generasi awal abad ke-20 adalahSir Muhammad Iqbal yang merupakan salah seorang muslim pertama di anak benua India yang sempat mendalami pemikiran barat modern dan mempunyai latar belakang pendidikan yang bercorak tradisional Islam. Kedua hal ini muncul dari karya utamanya di tahun 1930 yang berjudul The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Pembangunan Kembali Pemikiran Keagamaan dalam Islam). Melalui penggunaan istilahrecontruction, ia mengungkapkan kembali pemikiran keagamaan Islam dalam bahasa modern untuk dikonsumsi generasi baru muslim yang telah berkenalan dengan perkembangan mutakhir ilmu pengetahuan dan filsafat barat abad ke-20.[36]


D. Manfaat Sejarah Islam pada Masa Pembaharuan[37]

Manfaat yang dapat diperoleh oleh mempelajari sejarah perkembangan Islam pada masa modern adalah dapat meneladani perilaku berpegang teguh pada agama Islam, mencintai ilmu pengetahuan, dan mencintai budaya luhur.

1.      Dalam Al-Quran dijelaskan sejarah adalah sebagai peristiwa yang dialami oleh manusia dimasa lalu. Orang yang tidak ingin mengambil hikmah dari sejarah mendapat kecaman karena mereka tidak mendapat pelajaran apapun dari kisah dalam Al Qur’an. Melalui sejarah, kita dapat mengantisipasi yang mengakibatkan kegagalan di masa lalu tidak terulang di masa yang akan datang.

2.      Pelajaran yang dapat diambil dari sejarah dapat menjadi pilihan ketika mengambil sikap. Bagi orang yang mengambil jalan sesuai dengan ajaran dan petunjuk Nya, orang tersebut akan mendapat keselamatan.

3.      Pembaharuan akan memberi manfaat berupa inspirasi untuk mengadakan perubahan-perubahan sehingga suatu pekerjaan akan menjadi lebih efektif dan efisien.

4.      Dalam sejarah, dikemukakan pula masalah sosial dan politik yang terdapat di kalangan bangsa-bangsa terdahulu. Semua itu agar menjadi perhatian dan menjadi pelajaran ketika menghadapi permasalahan yang mungkin akan terjadi.

5.      Pembaharuan mempunyai pengaruh besar pada setiap pemerintahan. Sebagai contoh, pada zaman Sultan Mahmud II sadar bahwa pendidikan madrasah tradisional tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman abad ke-19. oleh karena itu, dibuatlah pembaruan-pembaruan di bidang pendidikan yang memasukkan unsur ilmu pengetahuan umum ke dalam sistem pendidikan negara tersebut.

6.      Sabar dan menanamkan sikap jihad yang sesuai dengan ajaran Islam (Al-qur’an dan Hadist)

7.      Sebagai motivasi diri untuk masa depan

8.      Membangun masa depan dengan pijakan-pijakan yang telah ada

9.      Kemampuan yang lebih baik[38]

 

  

BAB III

PENUTUP

1.      Kesimpulan

Pembaruan Islam adalah upaya upaya untuk menyesuaikan paham keagamaan Islam dengan perkembangan baru yang ditimbulkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Maka pembaruan Islam bukan berarti mengubah, mengurangi atau menambahkan teks Al Quran maupun teks alhadist. Melainkan hanya menyesuaikan paham atas keduanya sesuai dengan perkembangan zaman. Pembaruan Islam dapat pula berarti mengubah keadaan umat agar mengikuti ajaran yang terdapat didalam Al Quran dan al-sunnah. Diperlukan karena terjadi kesenjangan antara yang dikehendaki Al Quran dengan kenyataan di masyarakat. Al Quran misalnya mendorong umatnya agar menguasai pengetahuan agama dan pengetahuan modern serta teknologi secara seimbang: hidup bersatu, rukun dan damai yang bersifat dinamis, kreatif, inovatif, demokratis, terbuka.

1.      Kritik dan Saran

Kami menyadari bahwa Makalah kami bukanlah makalah yang sempurna maka dari itu kami mengharapkan Kritik serta saran yang bermanfaat serta membangun agar kelak dikemudian hari kami dapat membuat makalah yang lebih baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Hasan, Shohib. 2002. Gagasan Pembaharuan Hukum Islamhttp ://digilib.                        uinsby.ac.id/878/5/Bab%202.pdf (Jakarta: Bulan Bintang)

http://kbbi.web.id/reaktualisasi diakses pada 15 Maret 2016 pukul 19.37

http://kbbi.web.id/reinterpretasi diakses pada 15 Maret 2016 pukul 19.45

http://kbbi.web.id/rekonstruksi diakses pada 15 Maret 2016 pukul 19.32

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar