MAKALAH
PEMBAHARUAN DALAM ISLAM
Disusun oleh :
Dengan menyebut nama
Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puja dan puji
syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang Pembaharuan
dunia Islam.
Adapun makalah ini
telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai
pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak
lupa menyampaikan banyak terima kasih kepada teman-teman yang memberikan buku
referensi kepada saya untuk membuat makalah ini. Namun tidak lepas dari semua
itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusun
bahasa, maupun segi lainnya. Oleh karena itu, dengan lapang dada dan tangan
terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin member saran dan
kritik kepada kami sehingga kami dapat memperbaiki makalah sejarah
kemundura islam.
Akhirnya penyusun
mengharapkan semoga dari makalah ini tentang kemunduran dunia
Islam ini dapat diambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan
inspirasi bagi pembaca.
Air Rami ,05 Juni 2021
DAFTAR ISI
BAB I……………………………………………………………………………………….
1.1
Latar Belakang……………………………………………………………………
.
1.2
Rumusan Masalah. …………………………………………………………………..
1.3
Tujuan Pembahasan………………………………………………………… ……..
BAB
II……………………………………………………………………………………....
2.1
Pengertian Pembaharuan dalam Islam……………………………………………....
2.3
Latar Belakang pembaharuan Islam di Dunia beserta tokoh tokohnya. ……..............
2.4
Manfaat Sejarah Islam pada Masa Pembaharuan……………………………….........
BAB III……………………………………………………………………………
……….
DAFTAR
PUSTAKA………………………………………………………………………………....
PENDAHULUAN
Umat
Islam tradisional hingga saat ini tampak ada perasaan masih belum menerima apa
yang dimaksud dengan pembaharuan Islam. Mereka memandang bahwa pembaruan Islam
adalah membuang ajaran Islam yang lama diganti dengan ajaran Islam baru, padahal
ajaran Islam yang lama itu berdasarkan pada hasil ijtihad para
ulama besar yang dalam ilmunya, taat beribadah dan unggul kepribadiannya,
sedangkan ulama yang ada sekarang dipandang kurang mendalam ilmu agamanya,
kurang taat dalam ibadahnya dan kurang baik budi pekertinya. Oleh karena itu,
umat Islam tradisional beranggapan bahwa ulama abad lampau sudah cukup baik dan
tidak perlu diperbarui dengan ulama sekarang.
Adapula
yang memahami pembaruan Islam dengan mengubah Al Quran dan Al Hadist, memahami
Al Quran dan Al Hadist menurut selera orang yang memahaminya, atau mencocokan
makna Al Quran dan Al Hadist sesuai penafsirnya. Dengan kata lain, pembaruan
Islam dipersepsikan dengan upaya mencocokan kehendak Al Quran dan Al Hadist
dengan kehendak orang yang menafsirkannya, bukan mengajak orang hidup sesuai Al
Quran dan Al Hadist. Persepsi demikian hingga kini tampak dipegang terus oleh
sebagian umat Islam tradisional, tanpa berdialog kembali dengan para tokoh
pembaharu dalam Islam, maka muncullah kaum modernis dan kaum tradisionalis.
Pembaruan
sebenarnya bukanlah yang dipersepsikan oleh kaum tradisional. Pembaruan Islam
adalah upaya-upaya untuk menyesuaikan paham keagamaan Islam dengan perkembangan
baru yang ditimbulkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Maka
pembaruan Islam bukan berarti mengubah, mengurangi atau menambahkan teks Al
Quran maupun teks Al Hadist. Melainkan hanya menyesuaikan paham atas keduanya
sesuai dengan perkembangan zaman.
1. Apakah pengertian Pembaharuan Islam?
2. Apakah perbedaan dan persamaan dengan
moderenisasi, reformulasi, revitalisasi, rekonstruksi, reaktualisasi, dan
reinterprestasi?
3. Bagaimana Latar Belakang lahirnya
pembaharuan dalam Islam dan Pro Kontra dalam pembaharuan Islam beserta
Tokohnya?
4. Apakah manfaatnya bagi kemajuan umat
Islam?
1. Untuk mengetahui pengertian Pembaharuan
Islam.
2. Untuk mengetahui perbedaan dan persamaan
Pembaharuan Islam dengan moderenisasi, reformulasi, revitalisasi, rekonstruksi,
reaktualisasi, dan reinterprestasi.
3. Untuk mengetahui Latar Belakang lahirnya
pembaharuan dalam Islam dan Pro Kontra dalam pembaharuan Islam beserta tokohnya
4.
Untuk mengetahui
manfaatnya bagi kemajuan umat Islam.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Pembaharuan
dalam Islam
Pembaharuan Islam adalah upaya-upaya untuk
menyesuaikan paham keagamaan Islam dengan perkembangan baru yang ditimbulkan
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.[1] Dalam
bahasa arab Pembaharuan Islam disebut Tajdid secara harfiah tajdid berarti
pembaharuan dan pelakunya disebut Mujaddid. Dengan demikian pembaharuan dalam Islam bukan
berarti mengubah, mengurangi atau menambahi teks Al-Quran maupun Hadits, melainkan
hanya menyesuaikan paham atas keduanya.
Sesuai dengan perkembangannya zaman, hal
ini dilakukan karena betapapun hebatnya paham-paham yang dihasilkan para ulama
atau pakar di zaman lampau itu tetap ada kekurangannya dan selalu dipengaruhi
oleh kecenderungan, pengetahuan, situasional, dan sebagainya. Paham-paham
tersebut untuk di masa sekarang mungkin masih banyak yang relevan dan masih
dapat digunakan, tetapi mungkin sudah banyak yang tidak sesuai lagi. Kata tajdid sendiri
secara bahasa berarti “mengembalikan sesuatu kepada kondisinya yang
seharusnya”.
Dalam bahasa Arab, sesuatu dikatakan “jadid” (baru),
jika bagian-bagiannya masih erat menyatu dan masih jelas. Maka upaya tajdid seharusnya
adalah upaya untuk mengembalikan keutuhan dan kemurnian Islam kembali. Atau
dengan ungkapan yang lebih jelas, Thahir ibn ‘Ansyur mengatakan, Pembaharuan
agama itu mulai direalisasikan dengan mereformasi kehidupan manusia di dunia.
Baik dari sisi pemikiran agamisnya dengan upaya mengembalikan pemahaman yang
benar terhadap agama sebagaimana mestinya, dari sisi pengamalan agamisnya
dengan mereformasi amalan-amalannya, dan juga dari sisi upaya menguatkan
kekuasaan agama.
Rasulullah pernah mengisyaratkan bahwa[2]
Ø¥ِÙ†َّ اللَّÙ‡َ ÙŠَبْعَØ«ُ Ù„ِÙ‡َذِÙ‡ِ الأُÙ…َّØ©ِ
عَÙ„َÙ‰ رَØ£ْسِ ÙƒُÙ„ِّ Ù…ِائَØ©ِ سَÙ†َØ©ٍ Ù…َÙ†ْ ÙŠُجَدِّدُ Ù„َÙ‡َا دِينَÙ‡َا
” Sesungguhnya Allah akan mengutus (menghadirkan) bagi
umat ini (umat Islam) orang yang akan memperbaharui (urusan) agama mereka pada
setiap akhir seratus tahun” (HR. Daud)
Tajdid yang
dimaksud oleh Rasulullah saw di sini tentu bukanlah mengganti atau mengubah
agama, akan tetapi seperti dijelaskan oleh Abbas Husni Muhammad maksudnya
adalah mengembalikannya seperti sediakala dan memurnikannya dari berbagai
kebatilan yang menempel padanya disebabkan hawa nafsu manusia sepanjang zaman.
Tema “mengembalikan agama seperti sediakala” tidaklah berarti bahwa seorang pelaku tajdid (mujaddid) hidup
menjauh dari zamannya sendiri, tetapi maknanya adalah memberikan jawaban kepada
era kontemporer sesuai dengan Syariat Allah Ta’ala setelah ia dimurnikan dari
kebatilan yang ditambahkan oleh tangan jahat manusia ke dalamnya. Itulah
sebabnya, di saat yang sama, upaya tajdid secara otomatis digencarkan untuk menjawab
hal-hal yang mustahdatsat (persoalan-persoalan baru) yang kontemporer. Dan
untuk itu, upaya tajdid sama
sekali tidak membenarkan segala upaya mengoreksi nash-nash syar’i yang
shahih, atau menafsirkan teks-teks syar’i dengan metode yang menyelisihi ijma’ ulama
Islam[3].
Sama sekali bukan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa tajdid dalam
Islam mempunyai 2 bentuk:
Pertama, memurnikan agama setelah
perjalanannya berabad-abad lamanya dari hal-hal yang menyimpang dari Al-Qur’an
dan As-Sunnah. Konsekuensinya tentu saja adalah kembali kepada bagaimana
Rasulullah SAW dan para sahabatnya mengejawantahkan Islam dalam keseharian
mereka.
Kedua, memberikan jawaban terhadap setiap
persoalan baru yang muncul dan berbeda dari satu zaman dengan zaman yang lain.
Meski harus diingat, bahwa “memberikan jawaban” sama sekali tidak identik
dengan membolehkan atau menghalalkannya. Intinya adalah bahwa Islam mempunyai
jawaban terhadap hal itu. Berdasarkan ini pula, maka kita dapat memahami bahwa
bidang-bidang tajdid itu
mencakup seluruh bagian ajaran Islam. Tidak hanya fikih, namun juga aqidah,
akhlaq dan yang lainnya. Tajdid dapat saja dilakukan terhadap aqidah, jika aqidah
umat telah mengalami pergeseran dari yang seharusnya.
Pembaruan Islam dapat pula berarti
mengubah keadaan umat agar mengikuti ajaran yang terdapat didalam Al Quran dan
Al-Sunnah. Diperlukan karena terjadi kesenjangan antara yang dikehendaki Al
Quran dengan kenyataan di masyarakat. Al Quran misalnya mendorong umatnya agar
menguasai pengetahuan agama dan pengetahuan modern serta teknologi secara
seimbang: hidup bersatu, rukun dan damai yang bersifat dinamis, kreatif,
inovatif, demokratis, terbuka, menghargai pendapat orang lain, menghargai waktu
dan menyukai kebersihan.[4]
Pembaharuan dalam Islam telah banyak
mengemukakan ide pembaruan dalam Islam dengan maksud seperti diungkapkan
diatas, Muhammad Abduh dengan cara menghilangkan bid’ah yang
terdapat dalam ajaran Islam kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya dibuka
kembali ke pintu ijtihad.
Sementara itu, Sayyid Ahmad Khan bahwa untuk mencapai kemajuan perlu meninggalkan
paham qadariah ,
perlu percaya bahwa hukum alam dengan wahyu yang ada dalam Al Quran tidak
bertentangan.
Maka dari itu, Pembaruan dalam Islam bukan
mengubah Al Quran dan Al Hadist, tetapi justru kembali kepada Al Quran dan Al
Hadist, sebagai sumber ajaran Islam yang utama.
Banyak sekali peristilahan yang digunakan
para penulis yang dalam bahasa Indonesia berkonotasi pembaharuan,
umpamanya tajdid, ishlah, reformasi, ‘ashriyah,
modernisasi, revivalisasi, resurgensi (resurgence), reassersi (reassertion),
renaisans, dan fundamentalis. Peristilahan
seperti ini timbul, bukan sekedar perbedaan semantik belaka, akan tetapi
dilihat dari isi pembaharuan itu sendiri.
B.
Persamaan dan Perbedaan
dengan Modernisasi, Reformulasi, Revitalisasi, Rekontruksi, Reaktualisasi, dan
Reinterpretasi
1. Modernisasi
Modernisasi secara implikatif, merupakan
proses yang cenderung mengikis dan menghilangkan pola-pola lama dan kemudian
memberinya status modern pada pola- pola yang baru[5].
Pandangan ini berlandaskan pada terjadinya revolusi industri di Barat, atau
berarti modernisasi adalah suatu proses transformasi perubahan bentuk dari
masyarakat tradisional menuju masyarakat modern.[6]
Zaman modern sebenarnya didorong oleh
perkembangan filsafat Barat, yang memberikan fokus pada pembahasan humanitas, individualisme
dan kebebasan. Hingga pada akhirnya arah kecenderungan ini membawa konsekuensi
yang mengakibatkan keraguan-keraguan skiptis. Sebab yang lain dari modernisasi
adalah semakin menguatnya industrialisasi. Sebaliknya di negara-negara yang
sedang berkembang industrialisasi justru di sebabkan oleh modernisasi[7]
Persamaan dari Modernisasi dengan
Pembaharuan ialah modernisasi identik terhadap zaman barat, sedangkan modern
dalam peristilahan Arab dikenal dengan kata Tajdid yang
artinya dalam bahasa Indonesia diartikan dengan pembaharuan. Dalam konteks
pemikiran modern dalam Islam, ia merupakan suatu wacana yang mengawali
perubahan mendasar bagi Islam sebagai suatu nilai ajaran dan umatnya sebagai
pembuat arus perubahan tersebut.
2. Reformulasi
Muhaimin menyatakatan “Setiap reformasi dan pembaharuan dalam Islam harus
dimulai dengan pendidikan”[8]
Reformulasi berasal dari gabungan “re‟ dan
formulasi yang mempunyai arti merumuskan ulang. Secara terminologis,
reformulasi berarti merumuskan ulang atau merancang ulang konsep dan
pelaksanaan pendidikan Islam.[9]
3. Revitalisasi
Diperlukan adanya pembaharuan ajaran Islam
untuk menghadapi berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat. Sungguh banyak
nass, baik yang berasal dari Al-Quran dan hadits yang menganjurkan kaum muslim
untuk melakukan pembaharuan. Di dalam surat Al- Ra’d ayat 11, disebutkan bahwa
Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum terkecuali kaum itu sendiri
berusaha merubahnya.[10]
Revitalisasi berbeda dengan pembaharuan.
Pembaharuan tersebut tidak mengubah tetapi menyesuaikan dengan zaman sedangkan
revitalisasi menggiatkan yang sudah ada tetapi belum tentu menyesuaikan. Tetapi
bisa juga revitalisasi dilakukan setelah pembaharuan untuk membuat nilai-nilai
Islam semakin mendarah daging.
4. Rekonstruksi
Menurut KBBI, Rekonsturkis adalah /re·kon·struk·si/ /rékonstruksi/ n pengembalian seperti semula[11] Rekontruksi
berbeda dengan pembaharuan. Rekonstruksi adalah pengembalian seperti semula
sedangkan pembaharuan menyesuaikan dengan zaman sekarang dan tidak kembali saat
zaman rasulullah.
5. Reaktualisasi
Menurut KBBI reaktualisasi adalah /re·ak·tu·a·li·sa·si/ /réaktualisasi/ n proses, cara, perbuatan mengaktualisasikan
kembali; penyegaran dan pembaruan nilai-nilai kehidupan masyarakat.[12]Reaktualisasi
sama dengan pembaharuan karena reaktualisasi menyegarkan dari kejadian lampau
sehingga menyesuaikan dengan kejadian zaman sekarang.
6. Reinterpretasi
Menurut KBBI Reinterpretasi adalah /re·in·ter·pre·ta·si/ /réinterpretasi/ n penafsirkan kembali (ulang); proses, cara,
perbuatan menafsirkan kembali terhadap interpretasi yang sudah ada.[13] Reinterpretasi
bisa juga disebut pembaharuan karena ia menafsirkan kembali yang sudah ada
tetapi belum tentu menyesuaikan.
C. Latar Belakang pembaharuan Islam di Dunia beserta
tokoh tokohnya
1. Islam Klasik 650-1250 M
Sepeninggal nabi muncul problem tentang
siapa yang pantas menggantikan nabi, sebab nabi tidak meninggalkan wasiat
mengenai pergantian kemimpinan. Kelompok muhajirin dan anshar masing-masing
mengklaim paling berhak menggantikan posisi nabi. Ketika peristiwa itu
berlangsung, umar bin khattab datang dan mengusulkan abu bakar sebagai orang
yang paling pantas menggantikan nabi karena kedekatan dan senioritasnya. Lalu
umar membaiat abu bakar dan diikuti oleh yang lainnya. Proses pemilihan abu
bakar dilakukan secara aklamasi oleh perorangan yaitu ummar bin khattab lalu
disetujui kaum muslimin. Pembaiatan abu bakar pun dilakukan sekali lagi di
masjid Nabawi.
Sayidina Ali bin abi thalib tidak membaiat
abu bakar karena masih mengurus jenazah nabi dan menenggang perasaan isterinya,
fatimah, yang menurut tanah warisan nabi tapi tidak dikabulkan abu bakar. Baru
setelah fatimah wafat ali pun membaiat abu bakar. pemilihan khalifah dilakukan
secara demokratis. Cara ini dilakukan karena rasulullah tidak menunjuk
pengganti atau mewariskan kemimpinannya kepada seseorang.
Periode klasik ini dapat pula dibagi dua
ke dalam dua masa, masa kemajuan dan masa disintegrasi[14].
masa kemajuan Islam 650-1000 M. Masa ini masa ekspansi, integrasi dan keemasan
Islam. Dalam hal ekspansi, sebelum nabi muhammad wafat di tahun 623 M. Seluruh
semenanjung arabia telah tunduk ke bawah kekuasaan Islam. Ekspansi
kedaerah-daerah di luar arabia dimulai dizaman khalifah pertama, Abu bakar
Al-Siddik.
Sayidina Abu bakar menjadi khalifah di
tahun 632 M . tetapi dua tahun kemudian meninggal dunia. Masanya yang singkat
itu dipergunakan untuk menyelesaikan perang riddah, yang dimbulkan oleh
suku-suku bangsa arab yang tidak mau tunduk lagi kepada madinah. lalu dilanjutkan
oleh khlifah kedua, Umar Ibn Al-Khattab (634-644 M). Di zamannyalah gelombang
ekspansi pertama terjadi, kota damaskus jatuh di tahun 635 M. Dan setahun
kemudian, setelah tentara binzantium kalah pertempuran di yarmuk, jatuh ke
bawah kekuasaan Islam. Ekspansi di teruskan ke irak dan mesir. Irak jatuh di
tangan Islam pada tahun 637 M sedangkan, mesir jatuh di tangan Islam pada tauhn
640 M . Setelah irak jatuh ke tangan Islam, lalu dilanjutkan serangan di
persia. Persia jatuh ditangan Islam pada tahun 641 M.
Di zaman Sayidina Usman Bin Affan (644-656
M), gelombang ekspansi pertama berhenti sampai di sini. Di kalangan umat Islam
terjadi perpecahan karena soal pemerintahan dan dalam kekacauan yang timbul
usman mati terbunuh.[15]
Sebagai penganti Usman, Sayidina Ali Ibn
Abi Thalib menjadi khalifah keempat (656-661 M) tetapi mendapat tantangan
dari pihak pendukung Usman terutam Mu’awiah. Ali, sebagaimana usman mati terbunuh,
dan mu’awiah menjadi khalifah kelima. Mu’awiah selajutnya membentuk Dinasti
Bani Umayyah (661-750 M) dan ekspansi gelombang kedua terjadi di zaman dinasti
ini. Mu’awiah menerapkan pemerintahan semacam monarki yakni kekuasaan turun-
menurun di kalangan keluarganya.
Jatuhnya dinasti bani umayyah adalah dari
semenjak berdirinya, dinasti bani umayyah telah menghadapi tantangan-tantangan.
Kaum khawarij pada mulanya adalah pengikut ali, tetapi tidak setuju dengan
politik ali untuk mencari penyelesaian secara damai dengan mu’awiah tentang
soal khalifah[16].
Tantangan keras yang akhirnya membawa kejatuhan bani umayyah datang dari pihak
golongan Syi’ah. Golongan syi’ah adalah pengikut-pengikut yang setia dari ali
dan berkeyakinan bahwa alilah sebenarnya yang harus menggantikan nabi untuk
menjadi khalifah umat Islam. Akhirnya yang lansung membawa kepada jatuhnya
kekuasaan bani umayyah ialah munculnya satu cabang lain dari Quraisy, yaitu Abu
Al-Abbas. Abu al-abbas mengadakan kerja sama dengan kaum syi’ah. Serangan
terhadap bani umayyah dimulai dari khurasan jatuh tahun 750 M. Tidak lama
kemudian khalifah bani umayyah pun jatuh digantikan oleh abu al-abbas sebagai
khalifah.[17]
Keberhasilan menumbangkan dinasti umayyah
tersebut tidak dapat dilepaskan dari beberapa faktor yaitu pertama, gencarnya
propaganda yang dilakukan oleh al-abbas kepada setiap penduduk yang kecewa atas
kemimpinan dinasti bani umayyah, kedua, makin banyaknya pendukung dari segala
lapisan masyarakat terhadap kaum pemberontak sehingga kebencian mereka terhadap
bani umayyah menjadi faktor yang memundahkan mobilisasi massa, ketiga
pemerintahan dinasti bani umayyah yang dianggap zalim ikut mendorong kebencian
di rakyat, keempat, kelemahan yang dialami oleh dinasti bani umayyah sendiri.
pada awal pemerintahan banyak masalah yang harus dihadapi. Namun, berkat bakat
kemimpinannya semua permasalahan dapat diatasinya dengan baik. Kekuasaan
khalifah makin lama makin tidak memilki pengaruh apa-apa. Keadaan ini tidak
dapat dihindari oleh para khalifah penggantin berikutnya, karena para tentara
keturunan turki yang makin lama makin banyak turut memberi dukungan bagi
asyinas . secara politis pada khalifah dinasti abbasiyah lemah dan mundur, di
pihak lain kemajuan intelektual, sains, dan filsafat terus berkembang. Bahkan
kemajuan sains, dan filsafat makin bertambah pada masa Buwaih dengan bermunculnya
para ilmuwan dan filosof dengan membawa pemikiran-pemikiran baru.[18]
Masa disintegrasi (1000-1250 M) dalam
bidang politik sebenarnya telah mulai terjadi pada akhir zaman bani umayyah,
tetapi memuncak di zaman bani abbasiyah. khalifah-khalifah bani abbasiyah[19] tetap
diakui, tetapi kekuasaan dipengang oleh sultan-sultan Buwaihi. Kekuasaan
dinasti buwaihi atas bagdad kemudian dirampas oleh dinasti Saljuk. Saljuk
adalah seorang pemuka suku bangsa turki yang berasal dari Turkestan. Saljuk
dapat memperluas daerah kekuasaan mereka sampai ke daerah yang dikuasai dinasti
bawaihi. Dan semenjak itu sampai sekarang Asia kecil menjadi daerah Islam.
Dengan jatuhnya asia kecil ke tangan dinasti saljuk, jalan naik haji ke
palestina bagi umat Kristen di eropa menjadi terhalang. Untuk membuka jalan itu
kembali Paus Urban II berseru kepada umat kristen di eropa di tahun 1095 M
supaya mengadakan perang suci terhadap Islam. Perang salib pertama terjadi
antara tahun 1096 M dan 1099 M, perang salib kedua antara tahun 1147 M dan 1149
M yang diikuti lagi oleh beberapa perang salib lainnya, tetapi tidak berhasil
merebut palestina dari kekuasaan Islam. Di abad duapuluh inilah baru palestina
jatuh ke tangan inggris sesudah kalahnya turki dalam perang dunia pertama.
Perpecahan di kalangan umat Islam menjadi besar. Ekspansi Islam di zaman ini
meluas ke daerah yang di kuasai binzatium di barat, ke daerah pedalaman di
timur dan afrika memalui gurun sahara di selatan. Dinasti saljikah meluaskan
daerah Islam sampai ke asia kecil dan dari sana kemudian diperluas lagi oleh
dinasti usmani ke eropa timur. Di india Ekspansi Islam diteruskan oleh dinasti
Gaznawi.
D.
Tokoh Pembaharuan Islam
Klasik[20]
1. Ilmu Kedokteran
Ilmu kedokteran masa ini masih merupakan bagian dari
ilmu filsafat dan berkembang bersama-sama ilmu filsafat. Dokter pada masa ini
adalah Al Razi dan Bin Sina.
·
Al Razi (865-925 M) yang terkenal di dunia barat dengan sebutan
Rozes. Ia adalah murid Hunain Bin Ishaq. Sewaktu masih muda Al Razi hidup
sebagai dokter kimia selanjutnya sebagai guru dokter medicine. Kitab-kitab
karangan tidak kurang dari 200 jilid yang kebanyakan berisi ilmu kedokteran.
Sebuah bukunya yang masyhur ialah “al-Hawi”. Buku ini merupakan sari ilmu
Yunani, syria dan arab.
·
Ibn Sina, Abu Ali Husein bin Abdullah bin Sina, lahir di
Afsyana, suatu tempat yang terletak di dekat Bukhara di tahun 980 M. Ibn Sina
menulis ensiklopedi tentang ilmu kedokteran yang terkenal dengan nama al Qanun
fi al Thib. Ilmu ketabiban modern mendapat pelajaran dari Ibnu Sina. Penulis
barat yang mnejuluki ‘Bapak Dokter”.
1. Ilmu Filsafat[21]
§ Al Kindi (796-873 M) Al
Kindi, Abu Yusuf bin Ishaq, berasal dari Kindah di yaman, lahir di Kufah (Irak)
tahun 796 M. Di kalangan kaum muslimin, orang yang pertama memberikan
pengertian filsafat dan lapangannya. Al Kindi terkenal dengan sebutan ‘Filosuf
Arab”. Al Kindi banyak mengarang buku tetapi jumlahnya tidak ada kesepakatan
para penulis biografi. Isi karangannya meliputi filsaft, logika, ilmu hitung,
astronomi, kedokteran, ilmu jiwa, politik, optik, musik, matematika dan
sebagainya.
§ Al Farabi, Al
Farabi adalah Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Thankhan, lahir di Farab
tahun 257 H/870 M. Al Farabi luas pengetahuannya, mendalami ilmu-ilmu yang ada
pada zamannya, serta mengarang buku-buku dalam ilmu tersebut. Buku-bukunya
menunjukkan bahwa ia mendalami ilmu-ilmu bahasa, matematika, kimia, astronomi,
kemiliteran, musik, ilmu alam, ketuhanan, fisika, dan mantik. Al farabi
mendapat gelar “Guru Kedua” (al-mu’allimu al-Tsani).
§ Al Ghazali, Al
Ghazali adalah Abu Hamid bin Muhammad Al Ghazali, (w. 505 H/1111M). Dalam
sejarah filsafat Islam ia dikenal sebagai orang yang pada mulanya syak terhadap
segalanya. Ia syak terhadap ilmu kalam karena terdapat bebrapa aliran yang
saling bertentanagn. Sesudah ia mempelajari filsafat, ternyata Al Ghazali juga
menemukan argumen-argumen yang bertentanagn dengan ajaran islam. Maka, ia
mengarang buku maqasid al Falasifah yang menjelaskan pemikiran-pemikiran
filsafat. Karya Al ghazali Ihya Ulumuddin, Tahafut al falasifah dan lain-lain.
§ Ibn Rusyd, Ibn
Rusyd adalah Abu al walid muhammad bin Muhammad bin Rusyd, lahir di Cordova
tahun 1126 M. Ibn Rusyd dikatakan orang besar ilmu filsafat. Ia telah membangun
eropa dengan pikiran-pikiran Islam dan mengantarkan dunia barat ke pintu
gerbang renaisance. Dalam bidang kedokteran terdapat 16 jilid karangannya. Buku
itu bernama ‘Kulliyat fi al Thib” (aturan umum kedokteran). Ibn Rusyd juga meninggalkan
karangan-karangannya dalam ilmu hukum misalnya Bidayat al Mujtahid.
2. Ilmu Optik[22]
Dalam ilmu ini yang terkenal namanya
adalah Abu Ali al hasan bin al Haytam (965 M). Orang eropa menyebutnya Alhazen.
Ia ahli dalam ilmu mata (optik), cahaya, dan warna. Bukunya “kitab al
Manazhir”mengenai ilmu cahaaya diterjemahkan ke bahasa latin di masa gerard of
Cremona dan disiarkan pada tahun 1572.`
1. Ilmu Astronomi
·
Al Fazari adalah orang pertama yang mengerjakan astrolobe.
Model astrolobe mungkin diambil dari Yunani, jika dilihat dari Arab-nya,
Asthurlab. Di sana buku-buku terbitan pertama yang ditulis mengenai astrolobe
ini ialah yang ditulis oleh Ali bin Isa al Asthurlabi, hidup di Bagdad dan
Damaskus sebelum tahun 830 M.
·
Al Farghani, Ahli astronomi yang terkemuka lainnya dalam periode
adalah Abu al Abbas Ahmad al Farghani (Al Fraganus). Karyanya yang utama adalah
“Al Mudkhi Ila ilmi Hayai al Aflal” yang pada tahun 1135 diterjemahkan ke daalm
bahasa latin oleh John dari Sevilla dan Gerard dari cremona.
·
Al Battani
(Albateganius) Ia adalah seorang ahli perbandingan yang
terbesar dan penyelidikannya yang tekun. Ia membuktikan tentang kemungkinan
gerhana matahari yang berbentuk cincicn, serta berhasil menentukan dengan tepat
sekali garis edar matahari.
·
Al Biruni, Al Biruni (973-1050 M). Ia adalah seorang paling
terkemuka di bidang ilmu pasti. Ia menguasai selain bahasa Arab, Sangkrit,
Persia juga bahasa-bahasa Hibrew, syria, dan Turki. Pada tahun 1030 M beliau
menulis sebuah buku yang berjudul Al qamun al Mas’udi fi al Nujum.
2. Islam Pertengahan 1250-1800 M[23]
Keturunan Jengis Khan datang membawa
penghancuran ke dunia Islam[24].
jengis khan berasal dari mongolia. Setelah menduduki Peking di tahun 1212 M, ia
mengalihkan serangan-serangannya ke arah barat. Satu demi satu
kerajaan-kerajaan Islam di barat jatuh ke tangannya di tahun 1219/1220 M. Dari
sini ia meneruskan serangan-serangannya ke eropa dan ke rusia. Pada permulaan
tahun 1258 M ia sampai ke tepi kota bagdad. Pemerintah untuk menyerah ditolak
oleh khalifah Al-Musta’sim dan kota bagdag di kepung. Pada tahun 1258 benteng
bagdad ditembus dan dihancurkan hulagu. Hulagu bukanlah beragama Islam dan
anaknya Abaga (1265-1281 M) masuk kristen. Ghasan Mahmud (1295-1304 M) juga
masuk Islam dan demikian juga Uljaytun Khuda Banda (1305-1316 M). Uljaytun pada
mulanya beragama kristen adalah Raja Mongol besar yang terakhir.
Pada itu Timur Link, seorang yang berasal
dari keturunan Jengis Khan dapat menguasai Samarkand di tahun 1369 M.
Kedatangannya ke daerah-daerah di antara Delhi dan laut Marmara membawa
penghancuran. Mesjid-mesjid dan madrasah-madrasah dihancurkan.
Pasukan mongol pada tahun (1260-1277 M)
melakukan pengacuran di mesir, tetapi sebaliknya pasukan mongol dihancurkan
oleh mesir.[25] Pada
tahun 1250 M kekuasaan mesir dikuasai kaum Mamluk.
Di india juga persaingan dan peperangan
untuk merebut kekuasaan selalu terjadi sehingga india senantiasa menghadapi
perubahan penguasa. Kekuasaan dinasti ghazanawi dipatahkan oleh pengikut Ghaur
Khan, yang juga berasal dari salah satu suku bangsa Turki. Mereka masuk ke
india di tahun 1175 M , dan bertahan samapai tahun 1206 M.
Di spanyol timbul peperangan antara
dinasti-dinasti Islam yang ada di sana dengan raja-raja kristen. Di dalam
peperangan itu raja-raja kristen dapat memakai politik Adu-Domba antara
dinasti-dinasti Islam. Raja-raja kristen mengadakan persatuan sehingga satu
demi satu dinasti Islam dapat dikalahkan. Di tahun 1609 M boleh dikatakan tidak
ada lagi orang Islam di spanyol. Di zaman inilah penghacuran khilafah secara
formal. Islam tidak lagi mempunyai khalifah, yang diakui oleh semua umat
sebagai lambang persatuan dan ini berlaku sampai kerajaan usmani mengangkat
khalifah yang baru di istanbul di abad keenam belas.[26]
Periode usmani (1299-1422) dimulai dari
awal berdirinya perluasan pertama sampai kehancuran sementara oleh serangan
Timur Lenk. Pada masa usman dilakukan ekspansi Islam dengan merebut wilayah
dikuasai Bizantium. Orkhan menggantikan usman, juga dapat menundukkan wilayah
turkeman, nicaea, nicomedia, dan dapat mengontrol wilayah antara teluk edremit
meluaskan wilayah eropa. Bayazid, putra murad, menggantikannya. Bayazid
menaklukan wilayah yang belum ditundukkan sultan-sultan sebelumnya. Di masanya
terjadi peperangan besar antara pasukan usmani melawan tentara sekutu eropa
yang dimenangkan oleh pasukan usmani. Pasukan bayazid juga harus menghadapi
pasukan mongol dibawah komando Timur Link. Karena jumlah pasukannya tidak
seimbang, ia pun dikalahkan dan ditawan oleh timur lenk dan wafat di tahun
1402.[27]
Di Turki ada tiga kerajaan yaitu, Sultan
Muhammad Al-Fatih (1451-1481 M) dari kerajaan usmani mengalahkan kerajaan
bizantium dengan menduduki istanbul di tahun 1453 M. Ekspansi ke arah barat
dengan demikian berjalan lebih lancar. Pengganti sultan muhammad al-fatih
adalah sultan salim (1512-1520 M) sultan salim memilki kemampuan memerintah dan
memimpin peperangan. Pada masa pemerintahannya wilayah usmani bertambah luas
menembus afrika utara, syiria, dan mesir. Kemajuan-kemajuan lain dibuat oleh
Sultan Sulaiman Al- Qanuni (1512-1566 M)[28].
Sultan sulaiman adalah sultan usmani yang terbesar. Wilaya kekuasaannya
mencakup tiga benua yaitu ASIA, AFRIKA, dan EROPA. Pada di tahun (1556-1699 M)
ditandai dengan kemampuan Usmani mempertahankan wilayahnya sampai lepasnya
Hungaria. Pada periode ini mulai bermunculan pemberontakan dan usaha-usaha
memisahkan diri dari pemerintahan usmani. Di tahun (1699-1839 M) ditandai
dengan surutnya kekuatan kerajaan dan pecahnya wilayah di tangan penguasa
wilayah. Tanda-tanda ini semakin tampak, kekuatan asing seperti Rusia dan
Australia mulai memainkan perannya dalam memanfaatkan kelemahan militer usmani.
Perang berakhir pada tahun 1774, dimana turki kehilangan Crimea. Jelasnya di
abad 18, Turki Usmani mengalami penurunan kekuasaan. Wilayah-wilayah
kekuasaannya di berbagai benua satu persatu mulai menunjukkan
ketidakloyalannya.
Pada di tahun (1839-1922) ditandai dengan
kebangkitan kultural dan administratif dari negara di bawah pengaruh ide-ide
barat. Pada periode ini dilakukan pembaharuan politik, administratif dan
kebudayaan hingga kejatuhannya di tahun 1924 dan berganti menjadi Republik.
Khilafah Turki Usmani dihapuskan oleh Kemal Attaturk, dan turki dirombak
menjadi negara Nasional Republik Turki.[29]
Melalui bangsa Arab (Islam), Eropa dapat
memahami ilmu pengetahuan kuno seperti dari Yunani dan Babilonia. Tokoh tokoh
yang mempengaruhi ilmu pengetahuan dan kebudayaan saat itu antara lain sebagai
berikut.
1. Al Farabi (780-863M)[30]
Al
Farabi mendapat gelar guru kedua (Aristoteles digelari guru pertama). Al Farabi
mengarang buku, mengumpulkan dan menerjemahkan buku-buku karya aristoteles
1. Ibnu Rusyd (1120-1198)
Ibnu
Rusyd memiliki peran yang sangat besar sekali pengaruhnya di Eropa sehingga
menimbulkan gerakan Averoisme (di Eropa Ibnu Rusyd dipanggil Averoes) yang
menuntut kebebasan berfikir. Berawal dari Averoisme inilah lahir roformasi pada
abad ke-16 M dan rasionalisme pada abad ke-17 M di Eropa. Buku-buku karangan
Ibnu Rusyd kini hanya ada salinannya dalam bahasa latin dan banyak dijumpai di
perpustakaan-perpustakaan Eropa dan Amerika. Karya beliau dikenal dengan
Bidayatul Mujtahid dan Tahafutut Tahaful.
1. Ibnu Sina (980-1060 M)
Di
Eropa, Ibnu Sina dikenal dengan nama Avicena. Beliau adalah seorang dokter di
kota Hamazan Persia, penulis buku-buku kedokteran dan peneliti berbagai
penyakit. Beliau juga seorang filsuf yang terkenal dengan idenya mengenai paham
serba wujud atau wahdatul wujud. Ibnu Sina juga merupakan ahli fisika dan ilmu
jiwa. Karyanya yang terkenal dan penting dalam dunia kedokteran yaitu Al Qanun
fi At Tibb yang menjadi suatu rujukan ilmu kedokteran
3. Islam modern
Pada
zaman modern itu memang muncul dan dimulai di Eropa barat laut, yakni Inggris
dan Prancis. Eropa barat laut, bahkan seluruh eropa, adalah daerah pinggiran.[31] Maka
timbul persepsi bahwa daerah pinggiran tidak semestinya menjadi tempat lahirnya
suatu terobosan sejarah yang begitu dasyat seperti zaman modern ini. Zaman
modern itu tidak muncul dari eropa barat alut, tentu akan muncul dalam waktunya
yang tepat, entah di negeri China ( karena industrialismenya) atau di dunia
Islam (karena etos intelektualnya). Dan dari dua kemungkinan itu, dunia Islam
memiliki peluang lebih besar, sebab etos intelektual atau keilmuan adalah dasar
dari pengembangan peradaban modern ini.
Agama
Islam berkepentingan untuk memacu pembaruan, peningkatan dan pengembangan
kehidupan. ia berkepentingan mendorong seluruh potensi manusia agar dapat
berkreasi, agar membesar dan meningkat. Islam bukan hanya sebagai ritus-ritus
yang haruskan dilaksanakan, bukan hanya da’wah akhlak,bukan hanya sebagai suatu
sistem pemerintahan, sistem perekonomian atau sistem hubungan internalsional.
Islam merupakan gerakan inopatif dan kreatif. Untuk mewujudkan sebuah kehidupan
yang belum pernah ada sebelumnya dan belum pernah diatur oleh perundang-undang
yan dibuat orang pada zaman sebelum maupun sesudah datangnya Islam. Daya inopasi
dan kreasi yang dibawa oleh Islam itu ditunjukan kepada setiap hati atau kalbu,
dan kalbu selanjutnya mengejawatahkannya dalam kenyataan.
Dalam
memahami kedudukan dan fungsi ilmu pengetahuan dan informasi-informasi ilmiah
(terutama di zaman sekarang yang sering disebut era informasi), pengertian
Qur’ani tentang “ayat” itu perlu dipahami dengan baik dan direnungkan secara
mendalam . tetapi dalam telaah lebih lanjut, perkataan “ayat” juga mengandung
makna “sumber pelajaran” atau” sumber mencari dan menemukan kebenaran”, seperti
perkataan itu digunakan dalam rangkaian frase “ayat al-qur’an”.[32]
Gerakan
kebangkitan yang dipelopori al-jabarti di atas terputus beberapa tahun ketika
terjadi penduduk Napoleon dari prancis atas mesir (1798-1802 M). Namun
pendudukan itu sendiri memberikan saham yang tidak dapat dikatakan kecil bagi
kebangkitan mesir pada masa selanjutnya, termasuk dalam bidang sejarah. Setelah
prancis meninggalkan mesir, penguasa baru mesir Muhammad Ali Pasya bertekad
untuk memulai pembangunan mesir dengan meniru barat. Muhammad Ali Pasya
bertekad untuk memulai pembangunan mesir dengan meniru barat. Pada masa ini
gerakan penulisan sejarah yang dipelopori al-jabarti disusul oleh Isma’il
al-Kasyasyaf dan al-athathar yang mulai mendapat pengikut di al-azhar juga
terhenti sebagaimana pada masapendudukan napoleon tersebut. Di awal paroan
kedua abad ke-19, muncul dua kelompok yang menjadi pelopor kedua setelah al-jabarti
dalam kebangkitan penulisan sejarah.
Kaum
muslim memiliki banyak sekali tokoh – tokoh pembaruan yang pokok – pokok
pemikirannya maupun jasa-jasanya di berbagai bidang telah memberikan sumbangsih
bagi uamt Islam di dunia. Beberapa tokoh yang terkenal dalam dunia ilmu
pengetahuan atau pemikiran Islam tersebut antara lain sebagai berikut.
1. Jamaludin Al Afgani (Iran 1838 – Turki 1897)
Salah
satu sumbangan terpenting di dunia Islam diberikan oleh sayid Jamaludin Al
Afgani. Gagasannya mengilhami kaum muslim di Turki, Iran, mesir dan India.
Meskipun sangant anti imperialisme Eropa, ia mengagungkan pencapaian ilmu
pengetahuan barat. Ia tidak melihat adanya kontradiksiantara Islam dan ilmu
pengetahuan. Namun, gagasannya untuk mendirikan sebuah universitas yang khusus
mengajarkan ilmu pengetahuan modern di Turki menghadapi tantangan kuat dari
para ulama. Pada akhirnya ia diusir dari negara tersebut.
1. Muhammad Abduh (mesir 1849-1905) dan Muhammad Rasyd
Rida (Suriah 1865-1935)
Guru
dan murid tersebut sempat mengunjungi beberapa negara Eropa dan amat terkesan
dengan pengalaman mereka disana. Rasyd Rida mendapat pendidikan Islam
tradisional dan menguasai bahasa asing (Perancis dan Turki) yang menjadi jalan
masuknya untuk mempelajari ilmu pengetahuan secara umum. Oelh karena itu, tidak
sulit bagi Rida untuk bergabung dengan gerakan pembaruan Al Afgani dan Muhammad
Abduh di antaranya melalui penerbitan jurnal Al Urwah Al Wustha yang
diterbitkan di paris dan disebarkan di Mesir. Muhammad Abduh sebagaimana
Muhammad Abdul Wahab dan Jamaludin Al Afgani, berpendapat bahwa masuknya
bermacam bid’ah ke dalam ajaran Islam membuat umat Islam lupa akan
ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya. Bid’ah itulah yang menjauhkan masyarakat
Islam dari jalan yang sebenarnya.
1. Toha Husein (Mesir Selatan 1889-1973)[33]
Toha
husein adalah seorang sejarawan dan filsuf yang amat mendukung gagasan Muhammad
Ali Pasya. Ia merupakan pendukung modernisme yang gigih. Pengadopsian terhadap
ilmu pengetahuan modern tidak hanya penting dari sudut nilai praktis
(kegunan)nya saja, tetapi juga sebagai perwujudan suatu kebudayaan yang amat
tinggi. Pandangannya dianggap sekularis karena mengunggulkan ilmu pengetahuan.
1. Sayid Qutub (Mesir 1906-1966) dan Yusuf Al Qardawi
Al
qardawi menekankan perbedaan modernisasi dan pembaratan. Jika modernisasi yang
dimaksud bukan berarti upaya pembaratan dan memiliki batasan pada pemanfaatan
ilmu pengetahuan modern serta penerapan tekhnologinya, Islam tidak menolaknya
bahkan mendukungnya. Pandangan al qardawi ini cukup mewakili pandangan
mayoritas kaum muslimin. Secara umum, dunia Islam relatif terbuka untuk
menerima ilmu pengetahuan dan tekhnologi sejauh memperhitungkan manfaat
praktisnya. Pandangan ini kelak terbukti dan tetap bertahan hingga kini di
kalangan muslim. Akan tetapi, dikalangan pemikir yang mempelajari sejarah dan
filsafat ilmu pengetahuan, gagasan seperti ini tidak cukup memuaskan mereka.
1. Sir Sayid Ahmad Khan (india 1817-1898) [34]
Sir
Sayid Ahmad Khan adalah pemikir yang menyerukan saintifikasi masyarakat muslim.
Seperti halnya Al Afgani, ia menyerukan kaum muslim untuk meraih ilmu
pengetahuan modern. Akan tetapi, berbeda dengan Al Afgani ia melihat adanya
kekuatan yang membebaskan dalam ilmu pengetahuan dan tekhnologi modern.
Kekuatan pembebas itu antara lain meliputi penjelasan mengenai suatu peristiwa
dengan sebab-sebabnya yang bersifat fisik materiil. Di barat, nilai-nilai ini
telah membebaskan orang dari tahayuldan cengkeraman kekuasaan gereja. Kini,
dengan semangat yang sama, Ahmad Khan merasa wajib membebaskan kaum muslim
dengan melenyapkan unsur yang tidak ilmiah dari pemahaman terhadap Al Qur’an.
Ia amat serius dengan upayanya ini antara lain dengan menciptakan sendiri
metode baru penafsiran Al Qur’an. Hasilnya adalah teologi yang memiliki
karakter atau sifat ilmiah dalam tafsir Al Qur’an
1. Sir Muhammad Iqbal (Punjab 1873-1938)[35]
Generasi
awal abad ke-20 adalahSir Muhammad Iqbal yang merupakan salah seorang muslim
pertama di anak benua India yang sempat mendalami pemikiran barat modern dan
mempunyai latar belakang pendidikan yang bercorak tradisional Islam. Kedua hal
ini muncul dari karya utamanya di tahun 1930 yang berjudul The Reconstruction
of Religious Thought in Islam (Pembangunan Kembali Pemikiran Keagamaan dalam
Islam). Melalui penggunaan istilahrecontruction, ia mengungkapkan kembali
pemikiran keagamaan Islam dalam bahasa modern untuk dikonsumsi generasi baru
muslim yang telah berkenalan dengan perkembangan mutakhir ilmu pengetahuan dan
filsafat barat abad ke-20.[36]
D. Manfaat
Sejarah Islam pada Masa Pembaharuan[37]
Manfaat
yang dapat diperoleh oleh mempelajari sejarah perkembangan Islam pada masa
modern adalah dapat meneladani perilaku berpegang teguh pada agama Islam,
mencintai ilmu pengetahuan, dan mencintai budaya luhur.
1. Dalam Al-Quran dijelaskan sejarah adalah sebagai
peristiwa yang dialami oleh manusia dimasa lalu. Orang yang tidak ingin
mengambil hikmah dari sejarah mendapat kecaman karena mereka tidak mendapat
pelajaran apapun dari kisah dalam Al Qur’an. Melalui sejarah, kita dapat
mengantisipasi yang mengakibatkan kegagalan di masa lalu tidak terulang di masa
yang akan datang.
2. Pelajaran yang dapat diambil dari sejarah dapat
menjadi pilihan ketika mengambil sikap. Bagi orang yang mengambil jalan sesuai
dengan ajaran dan petunjuk Nya, orang tersebut akan mendapat keselamatan.
3. Pembaharuan akan memberi manfaat berupa inspirasi
untuk mengadakan perubahan-perubahan sehingga suatu pekerjaan akan menjadi
lebih efektif dan efisien.
4. Dalam sejarah, dikemukakan pula masalah sosial dan
politik yang terdapat di kalangan bangsa-bangsa terdahulu. Semua itu agar
menjadi perhatian dan menjadi pelajaran ketika menghadapi permasalahan yang
mungkin akan terjadi.
5. Pembaharuan mempunyai pengaruh besar pada setiap
pemerintahan. Sebagai contoh, pada zaman Sultan Mahmud II sadar bahwa
pendidikan madrasah tradisional tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman abad
ke-19. oleh karena itu, dibuatlah pembaruan-pembaruan di bidang pendidikan yang
memasukkan unsur ilmu pengetahuan umum ke dalam sistem pendidikan negara
tersebut.
6. Sabar dan menanamkan sikap jihad yang sesuai dengan
ajaran Islam (Al-qur’an dan Hadist)
7. Sebagai motivasi diri untuk masa depan
8. Membangun masa depan dengan pijakan-pijakan yang telah
ada
9. Kemampuan yang lebih baik[38]
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Pembaruan
Islam adalah upaya upaya untuk menyesuaikan paham keagamaan Islam dengan
perkembangan baru yang ditimbulkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
modern. Maka pembaruan Islam bukan berarti mengubah, mengurangi atau menambahkan
teks Al Quran maupun teks alhadist. Melainkan hanya menyesuaikan paham atas
keduanya sesuai dengan perkembangan zaman. Pembaruan Islam dapat pula berarti
mengubah keadaan umat agar mengikuti ajaran yang terdapat didalam Al Quran dan
al-sunnah. Diperlukan karena terjadi kesenjangan antara yang dikehendaki Al
Quran dengan kenyataan di masyarakat. Al Quran misalnya mendorong umatnya agar
menguasai pengetahuan agama dan pengetahuan modern serta teknologi secara
seimbang: hidup bersatu, rukun dan damai yang bersifat dinamis, kreatif,
inovatif, demokratis, terbuka.
1.
Kritik dan Saran
Kami menyadari bahwa Makalah kami bukanlah
makalah yang sempurna maka dari itu kami mengharapkan Kritik serta saran yang
bermanfaat serta membangun agar kelak dikemudian hari kami dapat membuat
makalah yang lebih baik.
Hasan, Shohib. 2002. Gagasan Pembaharuan Hukum Islam: http ://digilib.
uinsby.ac.id/878/5/Bab%202.pdf (Jakarta:
Bulan Bintang)
http://kbbi.web.id/reaktualisasi diakses pada 15 Maret 2016 pukul 19.37
http://kbbi.web.id/reinterpretasi diakses pada 15 Maret 2016 pukul 19.45
http://kbbi.web.id/rekonstruksi diakses pada 15 Maret 2016 pukul 19.32
Tidak ada komentar:
Posting Komentar